Hari masih pagi ketika sebuah notifikasi dari fesbuk hadir di hadapan. Dug! Aih, Mark, kenapa kau munculkan ini? Jangan kelamkan hariku sepagi ini! Aku butuh stamina prima hari ini. Mau antri di rumah sakit, dan butuh lebih dari seribu langkah untuk berwara-wiri.
Tak kah kau tau, Mark? Telah kubenam di lembah hati yang terdalam resahku akan orang ini? Orang yang setiap pagi, saat pasar modal buka, maka dia akan berseru, disertai sekuntum bunga.
"Pagi, smart lady! Mari kita buka warung dan lihat potensi laba kita hari ini."
Kalimat 'baku' ini, selalu disertai sekuntum bunga yang berbeda di setiap harinya. Yup, dia tau persis aku suka bunga.
Tapi, hey! Itu dulu! Lalu lelaki berwajah oriental ini menghiang dari kehidupan. Tidak. Dia tak membawa lari apa pun dariku. Hanya membuahkan kehilangan yang sangat besar dan sesal tiada tara di hatiku.
Ah, Mark, kenapa sih kau ingatkan aku padanya, setelah sepenuh daya kutenggelamkan ingatan akan dia? Akan resah dan penasaran akan keberadaannya? Ah, Tuhan, dia di mana? Sudah kembali pada-Mu kah?
Ah, Lucky! See? Mark reminds me. Where are you? Are you alive?
Kamu kemana, sih? Dua tahun? Tiga tahun? Kamu menghilang tanpa pesan. Tau kah kamu jika kamu sering jadi topik bahasanku dan suami, mempertanyakan aneka kemungkinan terhadap 'raibnya' dirimu?
Bahkan dia, sempat menganalisa begitu dalam, tapi masuk akal sih. Dia juga menyalahkan kita berdua, yang sok-sokan tak mau bertukar contact info.
"Aduh, Vi, Mas heran deh dengan kalian ini! Era IT secanggih ini, tapi kalian bahkan ga saling bertukar nomor HP! Persahabatan macam apa coba itu?" Sesalnya kala aku berkeluh kesah, kehilangan kamu.
Dan aku rasa dia benar. Sungguh tolol kita ini. Hanya mengandalkan yahoo messenger yang malah telah padam! Ah, ku menyesal! Luck! Are you still alive? Kalimat ini selalu kuulang kala ku tak mampu menemukanmu.
Sungguh, ku menguatirkanmu, Luck!
Telah kutelusuri semua jejak yang mampu kuraba, telah kucari hingga ke pelosok lembah virtual yang biasa kita gunakan untuk berlatih, bahkan kurambah belantara pasar modal, di mana kamu biasanya tak pernah menjauh. Namun apa? Kamu tak ada!
*Lucky, are you alive? What's up with you? Where are you, dear? *
Hari ini, aku mencoba menjual stock yang aku punya. Bukan, bukan ku tak patuh pada nasehatmu, Suhu. Tapi karena aku kesal, benci, tapi juga uring-uringan terhadapmu! Kamu di mana, sih? Apa sudah berpindah alam? ðŸ˜
Luck, sahamku ga laku! Kamu bilang suruh simpan saja. Tapi dia terbenam berdarah-darah. Lihat, deh, Luck! Ga bangkit-bangkit, tau? Kamu dimana? Aku pengen konsul! *Are you alive? *
Ah, Tuhan, masih kah kami di alam yang sama?
Catatan hati,
kerinduan terhadap sesosok sahabat baik,
hilang entah kemana...
Al, Bandung, 27 Juli 2018