Setiap waktu saya duduk menikmati kopi bersama teman walaupun banyak teman yang sibuk dengan gadget masing-masing, saya harus siap-siap untuk menutup hidung agar terhindar dari bau asap. Bukannya lebay atau manja karena tidak sanggup mencium asap rokok, namun semenjak saya berhenti merokok hidung saya sudah agak sensitif dengan bau asap rokok. Rupanya begini rasanya apa yang dirasakan kaum hawa atau orang yang tidak merokok ketika menghirup asap rokok. Saya merasakannya sekarang.
Semenjak 4 tahun tidak merokok lagi, hidung saya terasa sangat sensitif jika menghirup asap rokok. Tapi tidaklah mungkin saya yang selalu berada di warkop dan berhubungan dengan pembeli harus selalu menutup hidung.
Tidaklah mungkin karena bau asap yang terus menggumpal, saya harus menjauhi kawan yang menghisap rokok atau menghindar untuk duduk semeja. Setiap gumpalan asap yang dikeluarkan dari mulut dan hidung saya harus siap menahan nafas atau menutup hidung dengan baju. Asap yang menyebar dalam ruangan pasti akan terhirup juga tanpa kita sadari.
Ya begitulah, selama 4 tahun juga saya menjadi perokok pasif. Walaupun tidak menghisap rokok lagi namun asap rokok selalu terhirup ketika saya duduk semeja dengan pelanggan dan juga teman ngopi di warung kopi. Walaupun saya sadar akan bahaya yang terjadi namun tidak ada tempat yang tidak ada polusi asap rokok apalagi di Aceh yang masih belum ada aturan yang mengatur tentang masalah rokok ini.
Bireuen, 25 Oktober 2018