Memiliki kawan yang banyak apalagi kawan yang menjadi sahabat karib, tempat kita berkeluh kesah, mencurahkan masalah-masalah, merupakan sebuah anugerah terindah. Merasakan pahit bersama, kesenangan bersama, masa-masa sulit dilewati bersama, sungguh indah melewati kebersamaan bersama sahabat sejati.
Memiliki musuh sangatlah tidak enak rasanya, apalagi yang menjadi musuh itu adalah sahabat kita sendiri. Memiliki musuh itu membuat hidup semakin sempit, dan tentunya memusuhi orang adalah hal yang sangat tidak baik.
Saya sangat menyesal, ketika memiliki kawan yang pernah tidur sebantal, makan sebungkus berdua, menjalani kehidupan pahit masa kos-kosan dulu sewaktu hidup diperantauan, sungguh kenangan yang masih bisa diingat walaupun sudah berpuluh tahun kenangan itu terlewati. Namun kenangan yang indah berubah menjadi sebuah kenangan yang ingin dilupakan ketika seorang teman mengkhianati kita.
Perpisahan dari kawan menjadi lawan bukanlah disebabkan karena perebutan pacar, atau perpebedaan politik yang bisa mengakibatkan baku hantam dan bukan karena masalah perjudian, tetapi karena masalah hutang-piutang. Tidak perlu saya sebutkan nama disini, karena saya tidak ingin menyebar aib kawan, akan tetapi tulisan ini agar menjadi pembelajaran bagi kita semua.
Menurut agama yang saya anut yaitu Islam, jikalau memiliki hutang maka segeralah untuk melunasinya karena jika kita memiliki hutang dan belum sempat melunasi sampai ajal menjemput maka kita akan sengsara sampai hari Kiamat.
Nabi Muhammad SAW bersabda yang artinya;
"Semua dosa orang yang mati syahid akan diampuni (oleh Allah), kecuali hutangnya.” (H. R. Muslim).
Secara hukum hutang-piutang, saya sudah mencoba untuk menagihnya sesuai syarat yang kami sepakati bersama. Waktu ke waktu, hari ke hari, tahun ke tahun saya menunggu seperti yang dijanjikan, namun hingga saat ini janji pun tinggal janji. Nomor kontak handphone sudah tidak bisa lagi dihubungi, alamat facebook saya pun diblokirnya. Dia pun melarikan diri dari hutangnya yang menyebabkan kami sudah tidak lagi berkomunikasi layaknya sahabat sejati. Dan akhirnya saya hanya bisa pasrah dan mengikhlaskannya walaupun dalam hati masih ada rasa benci karena telah dikhianati.
Kawan steemians, kadang kita sebagai pemberi hutang pun merasa serba salah, jika kita kasih akan timbul permusuhan saat kawan tidak membayar. Apabila tidak dikasih maka kita dianggap sahabat pelit. Begitulah realita yang terjadi. Namun sahabat tetaplah mutiara yang terindah dalam pertemanan. Dengan sahabat kita bisa melalui hari dengan keceriaan dan kebahagiaan. Janganlah kita memutuskan ikatan tali persahabatan dengan mengkhianatinya.