Pada bagian ini saya akan meriview sebuah buku yang berjudul Antropologi aceh yang merupakan bagian 18 yang terdapat di dalam buku Acehnologi volume ke 2. Saat ini saya duduk dibangku perkuliahan di semester 6,dan saya juga sedang mempelajari mata kuliah Antropologi.Disini Antropologi membahas tentang sekelompok masyarakat tradisional yang pemikirannya itu masih percaya kepada hal-hal yang bersifat mistik,seperti kepercayaan terhadap dukun (Mbah Marijan (gunung),yang disimbolkan dengan maskulin, dan Nyi Roro Kidul (Laut) yang disimbolkan dengan feminin).Fungsi antropologi disini memahami masyarakat tradisional tersebut.
Dalam memahami masyarakat Aceh ada beberapa hal yang perlu diperhatikan bahwa setiap sarjana internasional yang berkunjung ke Aceh, mereka pasti akan menghubungi ‘’sarjana lokal’’ sebagai supir, asisten, dan lain sebagainya. Para sarjana internasional tersebut bekerja boleh jadi karena bangga bergaul dengan orang yang berkulit putih atau bahkan mereka ke negara asing karena keinginan mereka untuk menambah wawasan dengan orang luar. Ketika sarjana internasional datang ke Aceh dan bergabung dengan sarjana lokal mereka melakukan diskusi ditempat-tempat tertentu, seperti warung kopi Cut nun, rumah makan,dan tempat yang dekat dengan wilayah si sarjana lokal yang ada disekitar Kota Banda Aceh, salah satu upaya orang Aceh agar tamu tersebut tidak jenuh sarjana Aceh berusaha menyenangkan tamu tersebut.
Ilmu antropologi di Aceh pertama kali muncul karena adanya pengaruh dari Snouck yang mengemukakan nasihat perang yang memberikan makna-makna sistem sosial dalam masyarakat Aceh. Karena sistem tampilan masyarakat Aceh itu era kolonial maka Snouck mengatakan bahwa rakyat Aceh itu harus melakukan lompatan tinggi untuk mengembalikan tatanan kehidupan masyarakat Aceh sesuai adat di Aceh yang sesungguhnya yaitu ‘Adat Meukuta Alam’’, maksudnya ialah adanya hukum adat di aceh tersebut dapat menenggelamkan hukum Islam.
Dalam kajian antropologi aceh lebih bertitik fokus pada kebudayaan masyarakat penggunungan dan masyarakat pesisir, contohnya: wilayah-wilayah persawahan perbukitan penggunungan yang ada di Aceh Besar, mulai dari Saree perbatasan dengan Aceh Pidie, hingga Lhong, perbatasan dengan kabupaten Aceh Jaya. Wilayah tersebut mencakup kepada wilayah areal pesisir di sekitar Gunung Seulawah. Disini antropologi mencoba menjelaskan bagaimana kehidupan masyarakat yang tidak terpangaruh dampak modernisasi.
Ada beberapa kajian di dalam antropologi:
Antropologi kultural yang membahas asal –usul, dan bagaimana kebudayaan masyarakat itu sendiri. Dalam tatanan kehidupan masyarakat aceh antropologi memandang bagaimana perkembangan religi di Aceh di masa lalu, sekarang dan masa yang akan datang.
Arkeologi mengenai hasil karya seni masyarakat lampau.
Antropologi biologi melihat aspek –aspek bilologis dalam diri masyarakat.
Antropologi linguistik mengenai bahasa-bahasa yang ada di dalam masyarakat yang berkaitan dengan sistem atau tatanan aturan- aturan berbahasa di dalam masyarakat tersebut.
Dalam masyarakat aceh,acehnologi memandang bagaimana tata bahasa yang digunakan di kalangan masyarakat yang menempati wilayah Aceh. Karena tidak semua yang tinggal di Aceh, yang merupakan orang Aceh asli.Aceh ini sangat luas lingkupnya dan tiap aceh itu berbeda dalam praktek bahasanya seperti dalam bahasa Aceh selatan (Labuhan haji) keping itu artinya uang, tetapi orang aceh besar uang itu disebut sebagai peng.
Perlu kita ketahui bahwa tiap bahwa tiap kawasan itu memiliki ciri khas tersendiri dalam berbicara, dan ciri khas itu beranekaragaman.Seperti yang termuat dalam pancasila Bhieenika Tunggal Ika berbeda-beda tetap satu, artunya walaupun sama-sama orang Aceh pasti terdapat juga perbedaan.
Acehnologi juga melihat kebudayaan Aceh dari segi makanan yang ada dis Aceh, karena kebudayaan dan makanan itu tidak dapat dipisahkan, makanan aceh tersebut mempunyai ciri khas rasa ke Acehan seperti; kuah si itiek, si reuboh Aceh besar, kuah belangong, Mie Aceh, Sate matang, kopi Ule kareng, kopi Gayo, Ade Meureudu, pisang sale, dan lain sebagainya. Dalam hal ini ternyata acehnologi bukan hanya menyajikan makanan yang berasal dari dalam Aceh saja, tetapi juga makanan yang berasal dari luar Aceh, seperti : Nasi Uduk, Canai Mamak, Roti bakar Bandung, dan lain sebagainya. Bahkan ada makanan Aceh yang saat ini sedang naik daun ialah Ayam lepas, Ayam penyet, Ayam geprek, dan lain sebagainya.
Contoh kuah belangong khas Aceh
https://goo.gl/images/fLBYDr
Kuah belangong yang merupakan salah satu makanan khas Aceh, yang biasanya itu selalu tersedia di rumah makan yang bernuansa Aceh, kuah belangong tersebut biasanya yang berisi daging kambing atau daging sapi yang dimasak dengan nangka atau masyarakat aceh sering menyebutnya dengan istilah boh panah, yang menariknya adalah masyarakat aceh selalu menyediakan kuah belangong ini pada tiap kenduri baik kenduri perkawinan maupun kenduri untuk orang meninggal, ‘’jet ta kheun hana sah khanduri meunyoe hana kuah beulangong’’, artinya tidak sah kenduri jika tidak ada kuah belangong.
Bukan hanya makanan saja yang menjadi tren di Aceh tetapi juga minuman yang lagi ngehitsnya, seperti : es kepal milo, es kepal beng-beng, Thai, dan lain sebagainya.
Contoh gambar es kepal milo yang sedang ngehits di aceh
https://goo.gl/images/NTzthg
Ais kepal bukan minum yang asing lagi bagi masyarakat aceh, ais ini lah yang saat ini yang membuat masyrakat aceh kecanduan akan rasanya yang sangat nikmat, ais ini disirami oleh susu coklat yang sangat kental, kemudian di taburi bubuk milo diatasnya dan di hiasi juga oleh beberapa toping seperti coco curnt, oreo, ceres, dan lainnya, ais ini saat ngehits di aceh harganya mulai dari 5 ribu hingga 10 ribu keatas.