Sedekat-dekatnya saya sama ayah, sampai sekarang saya tak pernah tahu sejauh mana pertemanannya diluaran. Yang saya tahu, kalau ayah, cukup ramai temannya.
Sedari dulu, saya selalu senang tatkala ayah bercerita mengenai teman-temannya yang tersebar di berbagai daerah dan kabupaten. Ataupun lintas dinas.
Ingin rasanya saya tahu bagaimana cara beliau membangun pertemanan. Ditipu? Entah berapa kali. Dicurangi, sudah jangan tanya lagi. Ayah sangat jarang pulang ke rumah dari kantornya dengan wajah murung.
Kini, barulah saya mengerti bagaimana bapak pegawai negeri tak berjabatan ini membangun relasi diluaran.
"Bapak kamu, dulu bantuin saya dapatkan rumah dhuafa tanpa bayar sepeserpun. Padahal sebelumnya saya sudah ditipu oleh agen proyek sampai 6 juta rupiah" ungkap seorang kawan ayah dari seberang telepon.
"Dek, saya kawan baik bapak kamu. Bapakmu telah membantu memudahkan urusan saya tanpa mau dibayar" saya makin tercekat tatkala satu persatu cerita tentang ayah saya dapatkan dari telp masuk.
"Bila tak dibantu oleh bapak Abang, mungkin saya ntah gimana nasibnya bang" lain orang lain lagi ceritanya. Dan terus seperti itu..
Ayah, orangnya ceplas ceplos dan terkadang temperamen, tapi ia seorang penyayang. Begitulah yang saya tahu tentang ayah. Selebihnya? Wallahu'alam
Sudah 20 hari ayah dirawat di RSU Zainal Abidin Banda Aceh. Silih berganti teman dan kerabatnya datang menjenguknya. Sayang, ayah masih juga belum sadarkan diri akibat pecahnya pembuluh darah di kepala.
Dan, benarlah apa yang diungkapkan oleh Ali Bin Abi Thalib ra.
Seseorang berkata kepada Sayyidina Ali bin Abi Thalib ra :
"Ya Ali, kulihat sahabat-sahabatmu begitu setia sehingga mereka banyak sekali, berapakah sahabatmu itu ?"
Sy. Ali menjawab :
"Nanti akan kuhitung setelah aku tertimpa musibah"
Begitulah, mungkin ada benarnya ungkapan, beda orang dulu berteman dengan anak sekarang berteman. Kita hanya haha hihi dengan handphone. Sedangkan mereka haha hihi sambil ngobrol di meja meja kopi.
Banda Aceh, 11 Juli 2018
Catatan 20 hari di Rsuza