Pengumuman juara untuk IndonesiaChallenge11 telah berlalu. Saya sebagai juara pertama tentu sepatutnya berterima kasih, meski rasa hati masih menyimpan perasaan malu.
Kepada
sebagai inisiator pelaksana ivent IndonesiaChallenge11 yang telah menyemarakkan dan membangkitkan semangat para penulis untuk terus semangat.
Kepada juri, , saya pernah mengenalnya saat saya menjadi redaktur di Koran Harian Aceh Independen, yang saat itu bersama-sama bung
dan senior
bersusah payah menghidupkan koran itu.
Sebagai juri, saya berharap memilih saya sebagai pemenang tentu bukan karena pernah menjadi kenalan atau teman. Tapi saya yakin juri memiliki penilaian tersendiri atas setiap tulisan.
Sebenarnya sudah lama saya absen urusan begituan. Apalagi sejak tidak aktif sebagai jurnalis empat tahun yang lalu. Sejak itu, sangat jarang menulis, terutama urusan yang berkaitan dengan lomba.
Kemudian menjadi freelance journalist dan hanya menulis di kompasiana dan blog. Selain itu hanya kontribusi lepas untuk beberapa media online.
Saat membaca postingan IndonesiaChallenge11 soal hobby, kebetulan saya pun menulis sekadarnya mengenai rutinitas keseharian yang saya catat dalam rangkaian tulisan.
Jujur, karena lama tidak menulis tentu sulit berharap untuk menjadi juara. Apalagi banyak penulis muda dan berbakat yang saat ini banyak menulis di steemit.
Memang saya mengakui, sejak bergabung dengan steemit, ada semangat dan asa baru untuk kembali menulis. Meski dengan terbata-bata dan ejaan yang masih sangat sulit untuk dituangkan.
Semangat sejak menulis di steemit juga pengaruh Taufik Al Mubarak
yang kerap "mengompor" untuk terus berkiprah. Memang dia ahli provokasi!
Mungkin sekali lagi, event lomba menulis ini sangat penting dan positif bagi penulis pemula maupun penulis yang sudah berkiprah di banyak tempat.
sebagai donatur juga perlu diberikan ucapan terima kasih, kerena telah memberikan motivasi dan dukungan yang baik dalam setiap event.
Bagi yang belum beruntung, saya hanya meminta rekan-rekan untuk meningkatkan kreativitas dan karya dengan terus menulis. Dalam setiap tulisan, semua memiliki gaya dan karakter tersendiri.
Tidak ada tulisan yang jelek, hanya soal selera dan perspektif dalam melihat setiap bingkai kalimat dan kata-kata. Semua kita memiliki kesempatan yang sama. Sekali lagi, terima kasih untuk semua. Semoga!