Foto ini adalah bahasa lain yang seharusnya mampu mengaduk emosi serta imajinasi publik, betapa kemanusiaan kadang terdampar jauh dari singgasana logika berpikir kita.
Memang, setiap kisah pahit selalu meninggalkan kesan tidak asik. Apalagi bergelut dengan kehidupan yang penuh "noda" hitam ketidakberdayaan.
Bahkan, tidak banyak yang mampu membangkitkan kemarahan publik atas selembar foto yang di dalamnya ada wajah Suadi, 36 tahun, beserta anaknya yang masih kecil.
Potret ini memang di bawah kesederhanaan serta tidak dekat dengan garis kemiskinan--terlalu jauh. Suadi adalah seorang ayah yang hidupnya terpaksa bersaing dalam kelas sosial berbeda. Berat!
Demi si buah hati, lakonnya sebagai pemanjat kelapa harus digeluti. Pantang menyerah dan memang tidak boleh menyerah. Ini adalah rumus alam baginya!
Di sudut kampung yang belum terjamah aspal, dia harus tinggal dalam gubuk reot terbuat dari rumbia. Dalam "istana" yang dibuatnya hasil keringat!
Saya mengabadikan ini sebagai bahasa lain tentang kepekaan. Tentang kemanusiaan dan kepedulian sosial yang gagap! Lalu berharap uluran tangan!?
Sudahlah!