Media Sosial dan Gelagat Trending Pra Steemit : Amatanku
Saya memang tinggal di kaki gunung, tetapi meskipun begitu serta suplai listrik dan konektifitas internet di kampung kami bisa disebut tidak begitu bagus, namun bukan berarti warga kampung kami buta terhadap perkembangan teknologi, utamanya teknologi komunikasi. Minimal, ramai yang menggunakan Facebook, terutama kalangan muda dan paruh baya, orang-orang yang lebih tua difasilitasi oleh anak-anak atau anggota keluarga lain yang lebih muda untuk bisa menikmati fitur video call via Facebook Messenger atau WhatsApp. Instagram dan Twitter kurang populer. Terdapat juga pengguna Telegram.
Melalui Facebook saya sedikit banyak semakin mengenal sebagian warga kampungku. Menurutku sangat mengherankan ketika orang menjadi begitu terbuka di media sosial, menjelaskan siapa dirinya, pikirannya, perasaannya. Karena itu pada suatu titik tertentu saya memilih untuk tampil anonim di Facebook. Ada sedikitnya 4 akun anonim milikku yang diban Facebook sampai akhirnya saya 'menyerah'.
Selama saya bermain Facebook, tema paling trend yang saya temui adalah politik. Orang selalu siap beradu argumen membela pendapatnya tentang betapa seempurnanya pilihan politiknya. Tak jarang berujung kepada saling olok dan putusnya pertemanan. Meskipun saya juga suka melibatkan diri dalam obrolan-obrolan politik untuk menguji argumenku dan argumen orang yang berbeda pandangan, saya lebih tertarik memperhatikan gelagat ibu-ibu paruh baya yang suka mengunggah foto selfie dan mengamati tingkah laku mereka dalam menghadapi rayuan pria-pria muda, terkadang saya juga melakukan itu: menyamar sebagai seorang ibu-ibu paruh baya, mengunggah selfie-selfie, dan mentertawai para pria muda itu yang berlomba membanjiri Messenger-ku. 😂😂 "Pencapaian" tertinggiku adalah ketika seorang pejabat tingkat Kabupaten mengajak "saya" berlibur ke Medan. Betapa terkejutnya dia ketika akhirnya saya bersedia melakukan video call. Hahahaha!
Masa "Transisi"
Setelah ditendang dari Facebook untuk terakhir kali, saya total "terasingkan" dari hingar-bingar kehidupan medsos dan bisa lebih berkonsentrasi mengurus Cowa dan Lemmo, dua ekor lembuku. Meskipun saya memiliki akun Instagram dan YouTube, tapi saya tidak merasa bahwa aplikasi ini dibuat untuk saya, saya lebih sebagai 'manusia teks' daripada 'manusia gambar' atau 'manusia video', jadi saya memang lupa kapan terakhir kali mengakses kedua hal itu. Saya juga tidak punya cukup ilmu untuk menyulap Cowa dan Lemmo menjadi Selebgram-selebgram apalagi sampai menjadi tambang uang yang menggembirakan.
Angin Segar Itu Bernama Steemit
Setelah direkrut ke Steemit, saya merasa mendapat angin segar baru selaku seorang manusia teks. Ya, memang harus belajar banyak hal dan mematuhi banyak rambu-rambu dalam menata reputasi menuju seorang Steemonian yang 'lebih gembira'. Ya, benar, persis di kehidupan nyata, masa-masa baik dan buruk datang silih berganti di Steemit. Pernah ada kalanya saya begitu kecil hati melihay hanya 3 orang yang 'menjempoli' artikelku, padahal -menurutku- sudah kubuat sebagus mungkin. Tapi itu menjadi sinyal untuk terus belajar, bertanya, meminta masukan-masukan pada yang lebih senior, terutama sekali mentorku yang begitu gigih memotivasiku.
Oh ya, sempat ada waktu sekitar sebulan ketika saya tidak menulis apa pun di Steemit, wakti itu saya peergunakan untuk mempelajaari beberapa hal penting termasuk memperhatikan bacaan-bacaan bermanfaat rekomendasi dari Steemonian-steemonian hebat. Saat saya kembali dari 'kevakuman' sebulan itu, saya menemukan diri saya dalam energi yang lebih positif, dan lebih gembira.
Selain , orang-orang yang termasuk 'jajaran awal' yang telah membantu saya memahami beberapa hal penting di Steemit termasuk yandot dan horpey melalui diskusi-diskusi di grup Telegram eSteem. Tetapi kalau saya harus berterimakasih pada semua yang telah membantuku, maka itu adalah semua Steemonian yang terus mengunggah konten-konten bermanfaat ke Steemit atau komentar-komentar yang berharga ataupun percakapan-percakapan di Telegram maupun Discord, termasuk dan tidak terbatas pada: Madam paulag, abh12345,
, neoxian, lynncoyle1,
, gillianpearce, dan banyak lagi. Saya telah melihat salah satu sisi Steemit sebagai tempat di mana orang bertemu dan beerkontribusi.
In addition to
, people who have helped me in my earlier time to understanding some important things about Steemit include
and
through discussions in eSteem Telegram group. But if I have to thank all those who have helped me, it is all Steemonians who continue to upload useful contents or valuable comments on Steemit or useful and helpful conversations in Telegram and / or ** Discord **, including but not limited to: Madam
,
,
,
,
,
,
, and many more. I have seen one side of Steemit is as a place where people meet and contribute.
Tepikan Duka, Rayakan Kepercayaanmu Pada Steemit : Power Up
Saat-saat sulit datang dan pergi, terus demikian, sekarang Steemonian dihadapkan pada lesunya nilai STEEM dan SBD. "Aaargh!" Teriak Tedy tadi siang, "Kapan nih SBD melesat lagi?"
Saya pura-pura tidak dengar. Saya mengecek Wallet saya untuk melihat ada sekitar 20SBD di sana. Saya mengecek harga di Internal Market dan bisa membeli sekitar 15STEEM dengan SBD sebanyak itu. Saya sudah berpikir untuk melakukan power up sejak sekitar seminggu lalu, tetapi peehatian saya saat itu telah teralihkan ke SteemMonsters di mana saya telah menghabiskan sekitar 7SBD untuk itu, saya sangat ingin mendapatkan kartu Legendary sebagaimana Pak Duta .
"Iya," sambut Bang Usuh, "kacau kali harga STEEM dan SBD."
"Sebenarnya bukan hanya dua duit kripto itu yang nyungsep," sahutku, "Bisa dibilang semua duit kripto sekarang sedang sakit. Orang-orang bulek ada yang menyebut kondisi ini sebagai 'crypto bloodbath'."
Ujang yang baru sampai menyambar, "Iya, sepertinya bener kata bang Aneuk."
"Kenapa begitu, Jang?" Tanya Tedy.
"Pacarku juga bilang begitu, soalnya."
Saya tertawa pendek, "Kalo udah pacarmu yang ngomong, siapa mau bantah, ya ngga?" Ujang tertawa kikuk sambil menggaruk kepalanya. "Tetapi kita bisa saja mengakhiri perdebatan ini dengan melihat harga-harga duit kripto di pasaran. Bisa kunjungi coingecko, di sana selain menyediakan informasi harga kripto semasa, juga tersedia grafik harga kripto tertentu sampai 90 hari terakhir."
"Kira-kira apa penyebab jebloknya harga-harga duit kripto saat ini?" Tanya Cek Ma'un yang ternyata dari tadi memperhatikan percakapan kami.
"Apa pacarmu juga mengatakan sesuatu tentang ini, Jang?" Timpalku.
"Kayanya ada hubungannya dengan pembobolan dua pasar kripto dalam waktu berselang dua minggu saja beberapa hari lalu." Jawab Ujang.
"Oh ya?"
"Tidak tahu juga apa iya itu yang memicu 'crypto bloodbath', tapi pasti menyumbang sekali pada jebloknya harga kripto-kripto."
"Di mana kejadiannya?" Tanya CM dan Tedy hampir bersamaan seolah sudah berencana.
"Dua-duanya di Korea Selatan. Yang pertama menimpa Coinrail, di mana hacker berhasil menggondol koin seharga lebih dari 37 Juta USD. Lalu tanggal 20 Juni kemaren hacker membobol koin kripto setara sekitar 30 Juta USD di Bithump."
"Dua-duanya di Korea Selatan?" Tanya Tedy.
"Iya," kata Ujang, "kayanya mereka sedang berusaha menulis rekor." Tidak ada yang tertawa pada lelucon Ujang, entah karena itu terlalu garing, atau karena semua masih terpengaruh harga SBD yang rendah.
"Ah ya!" Kataku, "saya akan melakukan Powering Up, mungkin nanti malam. Lumayan, bisa naambah 15SP." Semua berpaling padaku, "Dan saat ini saya harus kembali mengurusi lembu-lembuku."
| Lisensi Creative Commons Atribusi-NonKomersial-TanpaTurunan 4.0 Internasional (CC BY-NC-ND 4.0)) |
|---|
Saran Bacaan
- ccn.com : South Korean Crypto Exchange Bithumb Hacked, Thieves Steal $30 Million
- coindesk.com : Coinrail Exchange Hacked, Loses Possibly $40 Million in Cryptos
- mashable.com : Bitcoin and Ethereum plummet after Coinrail hack
- slate.com : Cryptocurrencies Plunged by Billions of Dollars Because a Minor Exchange Got Hacked
- cnbc.com : Bitcoin notches two-month low in the wake of cryptocurrency exchange hack
Terimakasih
Sekian dan terimakasih telah singgah.
Tulisan ini belum "mati", jadi, jangan sungkan mengomentari (membantah, mengkritik, menambah info, mempertanyakan, dan sebagainya). Dan saya TIDAK ANTI KOMENTAR PANJANG, ukuran bagi saya bukan hal utama, namun isinya lah yang penting. Tetapi jika itu layak dijadikan artikel, saran saya buat saja itu sebagai artikel Anda dan lekatkan tautannya di bilah komentar dan / atau mention saya di artikel tersebut (perhatikan untuk menulis nick dengan benar), ini tentu membawa manfaat lain kepada Anda pada gilirannya. Segala masukan akan menjadi pelajaran berharga bagi saya dan saya harap mampu menambah isi kepada cangkir saya.