Lebaran tahun ini kita tidak bertemu di kampung halaman, justru Ibu yang meminta untuk menemuiku di perantauan.
Tak apa-apa di mana pun kita bertemu, yang terpenting definisi rasa pulang membuat kita yang separuh kini jadi satu yang utuh.
Mata kita memerah, untuk rindu yang kita perah, hingga habis tidak tersisa karena kita sudah membuat pertemuan yang indah.
Kemenangan lebaran adalah bagi kita yang berhasil jadi utuh, mengisi yang separuh dengan beribu kata maaf untuk kepergian yang membuat airmata kita jatuh. Malam ini aku kembali lagi menjadi anak kecil yang mengharapkan kasih sayang di dadamu yang rapuh.
Maafkan aku yang jauh, yang harus membuat kita merasa separuh. Tapi melihatmu malam ini tertidur nyenyak di sampingku membuatku tidak menyesal harus mencari kesuksesan di tempat yang jauh.
Aku hanyalah seorang anak yang tidak ingin melihatmu menjalani hari tua, dengan meratapi nasib anaknya yang belum bisa menaklukan dunia, bahkan belum bisa menaklukkan impian yang nyata.
Malam ini kurasakan tanganmu yang kasar karena kerasnya kehidupan, menjadi tangan paling lembut yang membuatku paham bahwa kekuatan berasal dari ketulusan.
Jakarta, 11 Juni 2018
Catatan Foto: Diambil sewaktu menjemput Ibu di Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur.
Baca juga tulisan Anggrek Lestari yang lainnya, tentang #NarasiLestari yang hadir dari hati, untuk dimaknai.
1.Tentang Waktu yang Melahirkan Rindu
2.Hanya Denganmulah Mencintai Selalu Terasa Nikmat meski Bebannya Berat
3.angan Membuat Kecewa Orang Tercinta, Sebab Tuhan Akan Murka
THANKS FOR YOUR STOPPING BY. I REALLY APPRECIATE YOUR UPVOTE AND COMMENT