Kawan
Dalam separuh hidup,
Kita mabuk
Separuhnya lagi,
Kita gila
Dalam ruang waktu kita ukir asa
Semua diatur oleh hasrat kita.
Nestapa kita undang
kita biarkan bersemanyam
Duka kita pelihara,
kita pupuk,
kita agungkan ,
kita puja puja.
Seakan kitalah makhluk Allah yang paling menderita.
Tidak mungkin ada makhluk Tuhan yang lebih sengsara dari kita.
Dan tidak boleh ada.
Padahal puasa adalah ruang sapa
Puasa adalah taaruf nestapa
Puasa adalah refleksi semesta.
Bahwa kita sesungguhnya tidak menderita.
Karena kita buta
Karena kita tolol
Karena kita gila
Tuhan "memaksa" lapar agar kita ingat bahwa kita pernah kenyang
Bahwa kenyang itu enak.
Kita mabuk apa yang tak ada
Kita gila oleh mimpi hampa
Yang kita lukis sendiri atau berdua
Kadang bertiga.
Yang sudah ada kita anggap tak seberapa..
Bahkan tak berguna..
Kita kejar yang tiada
Kita buru yang di luar kuasa..
Kadang berhasil kita genggam,
Kadang lolos dan kita kecewa
Lalu kita ciptakan angan baru
Kawan
Dalam separuh hidup,
Kita mabuk
Separuhnya lagi,
Kita gila
Dari satu mimpi ke mimpi baru
Yang sudah ada
selalu tak berharga.
Yang tiada
kita anggap segalanya.
Sahabat mari kita rawat yang sudah ada.
Mari kita jaga anugerah
yang hadir untuk kita di antara kita.
Mari kita stel angan dan mimpi kita
Secukupnya saja.
Cinta adalah anugerah terbesar yang pernah ada.
Jangan ditukar dengan benda pengundang duka lara.
Atas nama cinta mari kita bersteemit ria
Demikian,
SELAMAT BERBUKA!
Tapi tunggu dulu!
Tunggu azan magrib bergema!
Dari Masjid, Surau, Meunasah atau Mushalla
Bukan dari MP3.
Ha ha ha..
Penutup kita nikmati bersama, yang sudah ada.
Dari Utopia, Antara Ada dan Tiada