"Mereka pasangan buta ya Bang?" Tanya kami pada pelayan gerai makanan di kawasan Brickfield.
"Betul! suami istri, dua-duanya tuna netra," jawabnya.
"Bayi itu anak mereka, tapi penglihatannya normal", tambahnya lagi.
Tampak ceria, sepasang suami istri duduk menunggu datangnya pesanan makanan. Seorang bayi berumur sekitar setahunan didudukkan di pangkuan sang ibu.
Bagiku ini bukan pemandangan biasa. Seorang bayi bercengkerama dengan dua orang tuanya, sang bapak tunanetra, ibunya juga.
Dua tunanetra ini bersepakat membina mahligai rumah tangga,
Alhamdulillah anak mereka normal dan sehat.
Imajinasiku sejenak delay.. Mendadak keramaian terasa begitu sunyi bagiku...
Ketika kucoba untuk membayangkan bagaimana mereka merajut hari-hari mereka, demi membesarkan sang buah hati. Bermacam pertanyaan muncul dibenakku. Tentang bagaimana cara mereka merawat dan mendidik anak mereka? Bagaimana mereka memgajarkan tentang benda benda kepada anak nya? Dan beribu pertanyaan lain yang membuatku terdiam cukup lama, dan hampir lupa bernafas.. Haaah.....
Harusnya kita lebih bahagia dari mereka.
Kita yang memperhatikan mereka akan membayangkan berbagai macam kesulitan, yang setiap hari mereka hadapi. Tetapi dari senyum lepas yang ada, tampaknya bagi mereka bukan persoalan lagi, saat harus menghadapi kenyataan hidup dengan keterbatasan penglihatan.
Sebentar-sebentar si bayi tertawa, saat dicolek sang ayah. Mereka bercanda, ceria, bahagia.
Subhanallah! Mereka yang tidak bisa melihat, tampak bahagia, bahkan mungkin lebih bahagia dari kita yang telah diberi nikmatnya anugerah penglihatan oleh Allah, tetapi suka lupa.
Brickfield kuala lumpur terletak tidak jauh dari KL Central. Bisa ditempuh dengan berjalan kaki sekira sebelas menit.
Kl Sentral merupakan Main Hub of Public Transport yang berada di pusat kota Kuala Lumpur.
Hampir semua jenis moda transport darat terkoneksi di Sentral KL. Mulai dari KTM, kereta api listrik yang hilir mudik antara negeri bahkan sampai ke Singapura.
Tersedia juga rapid KL, Monorail, MRT, KLIA Transit, KLIA Exprees. KL Sentral sekaligus menjadi stasiun bus antar bandar , maupun bus khusus ke destinasi wisata tertentu, seperti, Genting High Land, Cameroon Highland dan banyak lagi. Bus yang mengantar penumpang ke airport juga tersedia di sini.
KL sentral mudah diakses dari berbagai bandar di seluruh Semenanjung.
Kalau sudah sampai di KL Sentral tinggal melangkah ke Brickfield.
Di Brickfiled terdapat sebuah jalan yang memang di dominasi oleh berbagai macam kegiatan terkait pembinaan tuna netra, satu dua tempat di Brickfield berupa unit usaha sekaligus lapangan kerja bagi mereka untuk profesi sebagai tukang pijat.
Selain barisan tempat usaha untuk kegiatan para tunanetra, juga berjejer puluhan geray makanan di sepanjang jalan tersebut.
Banyak juga dari penghuni kawasan itu ternyata berasal dari keluarga yang cukup mapan secara ekonomi, namun dititpkan di kawasan tersebut.
Tujuan beberapa keluarga mapan menempatkan anggotanya disitu agar tidak merasa terisolir secara sosial dan menumbuhkan rasa percaya diri. Hidup di sini akan menumbuhkan kesadaran bahwa mereka tidak sendirian. Mereka punya komunitas yang sama sama tidak bisa melihat.
Malam-malam di Brickfield adalah keceriaan, malam-malam di Brickfield adalah senda gurau. Satu dua pasangan nampaknya sedang pacaran atau pendekatan.
Begini barangkali proses awalnya sehingga kemudian cinta hadir dan kemudian mereka bersepakat, menghadapi bersama persoalan hidup. Dan menikmati bersama dunia yang gelap ini.
Aku tidak berani bertanya di manakah kedua pasangan suami istri yang punya anak tadi saling jatuh cinta. Bagaimana pula cara mereka meyakinkan orangtua, agar merestui pernikahan mereka.
Harus aku tinjau ulang konsep bahagia yang aku pahami selama ini. Ada yang salah. Atau bahkan juga salah semuanya.
Barang kali ada diantara steemian yang sudah pernah berkunjung, atau malah sudah pernah ngobrol-ngobrol dengan tunanetra di sana tentang, melihat cinta dengan mata yang lain.
Malam semakin larut, dan mereka tetap tegar menatap masa depan, masa depan yang dipeluk erat dalam pangkuan sang ibu.
Sekian,
Kuala Lumpur sepuluh hari menjelang Ramadhan