Terakhir kami turun di stasiun MRT Stadium Kajang. Zainal namanya seorang sahabat yang sangat baik. Sudah 31 memit menunggu kedatangan kami.
Dengan exora yang cukup lapang kami menuju Sungai Ramal. Tidak banyak yang kami bicarakan. Saya juga tak berani membuka percakapan. Perut sangat lapar sejak pagi belum makan.
Bicara dengan kondisi perut lapar tidak baik, cenderung emosional dan tendensius. Saya selalu waspada orangnya!
Saking lapar saya tidak ingat lagi berapa lama jarak tempuh. Saat tiba di kawasan kuliner terkenal di sg. Ramal MEDAN SELERA, demikian tulisan yang tampak. Saat mobil diparkir.
"Profesor sudah di jalan, kita diminta membuat pesanan aja." demikian lebih kurang ucapan kawan yang sudah dulu tiba. Dua mantan petinggi MARDI.
kami sebagai tamu manut-manut saja. Hak bicara memang kami cabut sendiri.
"Kalau Itik Salai kita kena beratur" demikian kata zainal.
Saya dengan kawan yang petinggi mardi itu memilih tempat duduk dan zainal ikut antrian.
Dalam pikiran saya, ada dua kemungkinan kenapa antrian panjang pembeli Itik Salai Masthar itu.
Pertama karena enak, yang kedua, murah,
Sebelum makan sebaiknya cuci tangan, kaki tidak perlu, sebab tidak dipergunakan.
Satu jam kemudian setelah acara makan selesai, saya membuat kesimpulan, Itik Salai Masthar, murah dan juga enak sekali!
Demikian
Malaysia, tiga minggu yang lalu.