Sementara yang setengah hati, asal-asalan, apalagi merasa nyaman dan aman dengan situasi dan kondisi yang ada sekarang ini, akan dilindas oleh zaman.
"Contoh adalah nasihat terbaik"
Sudah ratusan kali kita membaca postingan yang mengajak kita membuat konten berkualitas.
Tampaknya ada beberapa "mazhab" yang menilai berkualitas tidaknya sebuah konten, dari sudut pandang yang berbeda-beda.
Memang tidak ada kriteria yang ketat, tentang syarat kualitas konten di steemit. Parameter yang digunakan juga beragam.
Pada kesempatan ini, saya tidak melibatkan diri terlalu jauh, dalam diskusi terkait indikator dan alat ukur berkualitas tidaknya sebuah konten.
Saya lebih memberi fokus pada budaya memberi contoh sebagai bentuk nasihat maupun ajakan yang baik.
Quote: Ahmad Dahlan
Contoh yang baik akan mengajak steemian untuk mengkuti. Idealnya contoh yang baik diberikan oleh mereka yang sudah lebih dulu mengarungi samudra steemit, kepada rekan rekan yang baru satu atau dua bulan berlayar di steemit.
Akan nampak sebagai bentuk kemunafikan, jika setiap harinya kita membuat pernyataan "Buat konten yang bagus!", Buat konten setiap hari!" "Minimal sepuluh konten setiap hari."
Di sisi lain, kita membuat konten asal jadi.
Membuat konten yang rapi dan serius memang butuh energi yang berlebih, butuh waktu yang lebih banyak, baik saat menemukan ide dan referensi yang tepat sebelum membuat konten, kemudian setelah konten selesai dibuat, kita perlu mereview berulang kali.
Ini yang sering saya alami.
**Alah han ek kupikee le, ku post laju, eunteuk ta kalon. **
(Alah nggak sanggup kupikir lagi, aku posting terus. Nanti kita lihat)
Beda sekali sikap saya tersebut dengan .
Beberapa waktu lalu, secara lisan risman menyampaikan kepada saya, tentang beban moral yang harus dia pikul, karena mendapat kunjungan rutin, trail paus, pada setiap konten yang dia buat. Dia mengatakan bahwa dia harus sangat hati-hati, mulai sejak memilih topik konten, menyiapkan tulisan, memilih foto pendukung, termasuk dalam menerjemahkan dalam bahasa Inggris, harus di koreksi berulang-ulang. Sebab tidak enak hati mendapat upvote besar, tapi konten tidak dipersiapkan secara serius.
Risman tidak sadar kalau pertemuan satu jam tiga belas menit di siang itu menyisakan motivasi untuk saya.
Sejak saat itu saya mulai memperhatikan dan mengamati konten yang dibuat oleh para stemian, yang reputasinya diatas 55 sampai dengan 70, yang saya kenal, seperti
bahkan
sebagai ketua KSI, yang reputasinya sudah 70.
Kemudian saya amati juga para #steem-ambasador yang saya pahami sebagai duta aktivitas #promo-steem
https://steemit.com/indonesia/@aiqabrago/menanti-steem-ambassador-indonesia
Saya menyimak dan memperhatikan dari beberapa konten yang mereka posting, mulai dari thema yang dipilih, pesan penting apa yang disampaikan,dan beberapa variable lain sebagai pelengkap dan penyempurna tampilan, penggunaan kaidah bahasa, dan lain lain.
Hasil pengamatan saya, masih banyak steemian dengan reputasi tinggi, steemian yang memegang "mandat publik", baik sebagai kurator maupun sebagai steem-ambassador yang konten postingannya masih bisa dan perlu disempurnakan serta diperbaiki lagi. Sehingga layak dijadikan referensi dan rujukan dalam berkarya oleh steemian "pemula" dan steemian lain pada umumnya
Steemit baru dimulai, dalam dua tahunan, pendatang baru semakin banyak, semangat profesionalisme perlu dipupuk. Tidak enak juga kalau berulang-ulang terdengar komentar, bahwa di steemit konten asal jadi divote oleh ratusan orang dengan nilai kurasi belasan bahkan puluhan SBD.
Sementara terhadap konten yang bagus malah tidak ada yang memberikan apresiasi.
Zaman bergerak, sebagaimana fenomena di sektor lain, mereka yang serius, bersungguh sungguh, istiqamah, terus memperbaiki dan mempersiapkan diri pada akhirnya akan jadi pemenang.
Sementara yang setengah hati, asal asalan, apalagi merasa nyaman dan aman dengan situasi dan kondisi yang ada sekarang ini, akan dilindas oleh zaman.
Demikian semoga bermanfaat bagi diri saya pribadi dan sahabat sahabat lain.
Wallahul Muwafiq Ila Aqwamith Thariq