Gambar diambil oleh rekan traveling saya namanya cut bang Mukhlis. kala itu, ketika saya sedang menghabiskan waktu libur panjang bersama rekan saya, menjelajahi berbagai tempat yang ada di aceh, pada saat itu tujuan kami adalah Krueng mane, di mana tempat kelahiran Syaikh Muhammad Abiet Al Bireuni. Krueng mane pun selesai kami jelajahi, sedangkan waktu yang tersisa masih hampir tujuh jam lebih, dan kami pun melanjutkan perjalanan menuju ke Sawang, Aceh Utara.
Cuacanya yang panas membuat saya dan rekan saya berkeinginan untuk melakukan aksi berenang di salah satu sungai yang biasanya menjadi objek wisatawan lokal.
Sedang asiknya merasakan dinginnya air sungai, melepaskan penat yang ada, terlihat beberapa orang anak dengan membawa masing-masing ban "bhan dalam" mobil, untuk mengangkut batu batu yang bisa di bawakan oleh mereka di dalam ban tersebut.
Singkat cerita, saya datangi mereka dan meminta izin untuk bergabung dengannya mencari batu yang bisa di pakai, setelah batu batu itu kami kumpulkan, lalu seorang anak menghitung berat batu itu dengan mengira ngira, Lalu mereka bawa batu itu menuju ke sebuah mobil truk, dan ia kembali lagi ke tempat perkumpulan sebelumnya.
Dengan membawa sebuah kantong plastik hitam, saya tidak tau apa isi di dalamnya itu. Lalu setelah mereka menyelesaikan pekerjaannya, saya mulai mengajak untuk berbincang-bincang dengan salah satu dari mereka, bisa dikata ketua geng.
Dik, tadi kan kita ngumpulin batu dari sungai, terus untuk apa kamu dan teman-temanmu batu itu, tanya saya.
Sambil tertawa ia menjawab dengan singkat pertanyaan dari ku, kami jual, kalau mau dimakan mana bisa, lucu abang ya.
Jadi dari tadi kalian berkerja untuk mendapatkan uang, bocah itu pun terdiam sejenak, dan kembali menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.
"Sebenarnya kami masih sekolah, kelas 4 SD, lalu jajan kami sehari hari tidaklah cukup untuk membeli permen yang berhadiah mobil mobilan, dan jikalau saja kami memaksa orang tua kami untuk membeli mainan yang kami mau, kami merasa kasihan pada orang tua kami, makanya kami cari uang sendiri biar Mak dan ayah bisa menggunakan uangnya untuk keperluan lain".
Setelah mendengarkan ceritanya itu, seolah olah saya merasa tersindir, entah bagaimana itulah yang terjadi. Bagaimana bisa mereka yang hanya anak anak mampu berpikir demikian, sedangkan kita yang jauh lebih tua dari mereka jarang memikirkan hal hal yang demikian.
Mari merenung sejenak, apakah kita merasa malu dengan anak anak itu...?
Jangan tanyakan pada rumput yang bergoyang.
Tukar batu dengan uang, mungkin kalau mereka sudah tau SBD, bisa jadi tukar batu dengan SBD.