Sumber: galena.com
Suatu ketika di abad pertengahan, Indonesia masih belum merdeka. Terdapatlah sepasang suami istri bersama satu anaknya. Pak Susono dan Ibu Susini juga anaknya Susitu.
Keluarga kecil ini hidup bahagia meski para penjajah terus mengintai. Pak Susono menghidupi keluarganya dengan berkebun, Ibu Susini hanya di rumah saja menunggu suaminya pulang membawa sayur-sayuran untuk diolah jadi makanan. Dan anaknya Si Susitu hanya bersekolah saja yang didirikan oleh para penjajah itu.
Suatu hari, rumah mereka kedatangan tamu tidak diundang. Para penjajah berjumlah lebih kurang 15 orang mendatangi rumah mereka untuk meminta sejumlah harta atau apapun yang keluarga kecil itu miliki.
"Keluarkan semua yang kalian punya", kata salah seorang penjajah berperut buncit. Nampaknya dia adalah komandan dari yang lainnya.
"Kami tidak memiliki apapun, Tuan", Pak Susono memohon kepada komandan buncit itu.
"Ah, kami tidak percaya. Periksa!". Perintah komandan tersebut pada anggotanya.
"Baik Jendral", kata anggotanya serentak.
"Pak, ampuni kami pak...", Pak Susono memohon lagi.
Dengan rasa takut yang sangat besar, Ibu Susini dan Si Susitu serentak berkata, "Pah, lawan. Pah, lawan".
Mendapat lecutan semangat itu, Pak Susono melawan para penjajah sendirian.
Mendapat perlawanan sengit, akhirnya para penjajah mundur dan balik ke markas mereka.
Sejak saat itulah, dari ucapan Ibu Susini dan anaknya Susitu tadi terciptalah kata "pahlawan" untuk ditujukan bagi orang-orang yang berjuang dan membela.
Baiklah, saya sangat berterima kasih untuk kalian yang masih membaca sampai kalimat ini. Dan, selamat berkhayal.