Forum Aceh Menulis (FAMe) kembali mengepakkan sayapnya. Sabtu, 3 Februari 2018, FAMe mulai hadir di dayah untuk mengenalkan literasi di kalangan santri. Dayah Raudhatul Ma’arif di bawah pimpinan Tgk. H. M. Amin Daud atau lebih dikenal dengan Ayah Cot Trueng itu menjadi tempat pertama deklarasi FAMe di kalangan santri. Sore itu, Pak Yarmen Dinamika (Pembina FAMe), Dr. M. Adli Abdullah (Dosen FH Unsyiah dan Divisi Humas & Dokumentasi Tastafi Aceh), dan saya sendiri (Koordinator FAMe Chapter Lhokseumawe), berkunjung ke dayah tersebut untuk membuka pelatihan menulis perdana. Hari itu, Masjid Tuha yang merupakan bangunan yang didirikan pada tahun 1812 Masehi oleh Teuku Bentara Keumangan, seorang ulee balang dari Keumangan, Pidie itu menjadi saksi bahwa literasi mulai masuk ke dunia santri.
Ini adalah pengalaman pertama saya mengisi pelatihan menulis bagi santri di dayah. Jika sebelumnya saya berada di tengah mahasiswa, dosen, atau pun teman-teman LSM, sore itu saya harus memberi motivasi menulis bagi kalangan teungku dan santri. Ini tentu menjadi pengalaman berbeda. Sore itu, saya, Pak Yarmen, dan Pak Adli hadir di tengah sekitar 150 santri. Sebelumnya kami bertiga tidak tahu bahwa akan mengisi pelatihan menulis khusus di asrama putra. Maka terlihatlah penampakan yang sedikit “aneh”. Saya menjadi satu-satunya perempuan di antara 150 santri tersebut. Menggunakan gamis hitam di tengah santri yang kebanyakannya berpakaian putih.
Namun kami sangat senang. Kedatangan kami bertiga disambut antusias oleh para teungku dan santri di dayah tersebut. Semua peserta menyimak dengan serius setiap pemaparan dari pemateri. Karena keterbatasan tempat, bahkan beberapa santri terpaksa menyimak sambil berdiri di luar ruangan. Mungkin kedatangan FAMe untuk mengajarkan ilmu menulis menjadi hal baru bagi kebanyakan santri di dayah. Namun hebatnya, santri di Dayah Cot Trueng sudah ada yang menerbitkan novel dan kini sedang merampungkan buku keduanya. Bahkan di dayah tersebut, sekitar 40 orang santri sudah mempunyai akun steemit dan aktif posting tulisan di platform tersebut. Ini tentu suatu hal yang luar biasa dan menunjukkan bahwa santri tidak hanya pandai membaca dan surah kitab, tapi juga pandai menulis dan menguasai teknologi.
Masuknya literasi ke dayah adalah sesuatu yang sudah lama saya harapkan. Membumikan literasi hingga ke dayah ini menjadi penting agar menulis tidak hanya mampu dilakukan oleh kalangan mahasiswa, politikus, dan akademisi saja, tapi juga para teungku dan santri. Bagi santri, menulis menjadi penting karena itu juga merupakan bagian dari dakwah. Jika santri menguasai ilmu menulis, maka banyak surah kitab bisa dituliskan kembali dengan bahasa yang lebih sederhana agar mudah diserap oleh semua kalangan.
Di tengah gempuran teknologi seperti saat ini, banyak hari ini yang menjadikan handphone sebagai balai pengajian virtualnya. Kini banyak ilmu fiqih, hukum Islam, kurban, dan lain sebagainya dikupas melalui video dan tulisan untuk kemudian dibagikan secara luas melalui internet. Ustaz Abdul Somad (UAS) adalah salah satu contoh nyata yang menyebarkan dakwah dengan memanfaatkan teknologi dan karya tulisannya, baik melalui video dan kupasan hukum Islam yang sudah dibukukannya. Maka menguasai teknologi dan ilmu menulis adalah sebuah keniscayaan.
Terlepas dari itu semua, semoga kehadiran FAMe di dayah membawa angin segar bagi dunia literasi santri. Santri adalah kalangan intelektual yang perlu diberikan ruang untuk berkembang dan tumbuh sama seperti kalangan intelektual lainnya. Tidak elok rasanya jika ada pandangan bahwa santri adalah golongan kelas kedua. Karena nyatanya, banyak perubahan dan peradaban itu dimulai dan digerakkan oleh santri dan ulama. Tgk. Abdul Rauf As-Singkily, Abuya Mudawali, Ali Hasjmy, dan jejeran ulama lainnya adalah bukti nyata bahwa obor ilmu yang menyala itu berasal dari dayah. Dari itu, mari membangkitkan kembali peradaban Aceh dengan membumikan literasi.