Steemit memang sedang booming dan dibicarakan oleh banyak kalangan. Mulai dari anak muda, akademisi, hingga ibu rumah tangga. Di berbagai kabupaten/kota di Aceh, terbentuk Komunitas Steemit Indonesia (KSI) yang kemudian mengadakan acara meet up untuk mempertemukan sesama steemians. Kemunculan platform ini disebut-sebut telah menggeser posisi akun sosial media lainnya. Orang berbondong-bondong untuk menulis di steemit. Kini, tidak mempunyai akun steemit dianggap ketinggalan zaman. Tidak kekinian.
Demam steemit bergerak secara cepat dan menjangkiti banyak orang. Hal ini wajar mengingat platform tersebut menawarkan sesuatu yang tidak ditawarkan oleh media sosial lainnya, yaitu awards berupa SBD yang bisa dicairkan dalam rupiah. Pencipta platform dan penggunanya sama-sama mendapatkan keuntungan. Ini tentu berbeda dengan media sosial lainnya yang penggunanya hanya sebagai “pelengkap penderita” tanpa mendapat ganjaran apa-apa. Facebook misalnya. Sepanjang dan sebagus apapun tulisan yang diposting, penulisnya hanya mendapat like dan komentar. Berbeda dengan steemit yang setiap like dan komentar bernilai dolar.
Namun walau demam steemit sedang mewabah di berbagai kalangan dan banyak orang ingin mempelajari lebih lanjut tentang platform tersebut, beda halnya dengan santri salah satu dayah di Aceh Utara. Dayah ini adalah salah satu dayah di Aceh Utara yang menjadi pusat literasi di bawah binaan Forum Aceh Menulis (FAMe). Sebelumnya, FAMe sudah beberapa kali berkunjung ke dayah tersebut untuk memberikan pelatihan menulis. Pihak dayah menyambut baik kedatangan Tim FAMe untuk membumikan literasi di kalangan santri. Tidak ada yang keberatan dengan kurikulum yang ditawarkan oleh FAMe.
Namun pada pertemuan ke-4 FAMe di dayah tersebut, ada satu penolakan yang menghenyakkan. Santri dan ustadz di dayah tersebut menolak satu materi yang ditawarkan oleh FAMe. Karena demam steemit sedang mewabah, saat itu Pembina FAMe, Pak Yarmen Dinamika menawarkan bahwa pada pertemuan selanjutnya akan mendatangkan Ayi Jufridar untuk mengajarkan steemit bagi santri di dayah. Namun apa yang terjadi? Santri dan ustadz di dayah tersebut menolak tawaran Pembina FAMe. Mereka merasa tidak butuh dengan materi yang satu itu.
Pak Yarmen pun dibuat heran oleh penolakan tersebut. Ini menjadi wajar mengingat sebelumnya di kelas FAMe di Banda Aceh dan beberapa chapternya di kabupaten/kota, peserta menyambut dengan antusias kelas dengan materi steemit. Karena tidak mau berasumsi macam-macam, dengan hati-hati Pak Yarmen pun menanyakan mengapa santri di dayah tersebut menolak diajarkan steemit. Usut punya usut, ternyata santri dan ustadz tersebut menolak diajarkan steemit bukan karena antiteknologi ataupun tidak kekinian, tetapi puluhan santri dan ustadz di dayah tersebut memang sudah aktif di steemit dan mempunyai penghasilan jutaan rupiah dari platform tersebut. Mereka menolak karena sudah menguasainya.
Pak Yarmen pun dibuat terkejut dan geleng-geleng kepala. Siapa sangka, para lelaki bersarung ini sangat melek teknologi dan sudah mendapatkan penghasilan jutaan rupiah dari steemit. Harus diakui, pergerakan literasi di dayah tersebut sangat menggeliat. Ya, Raudhatul Ma’arif atau lebih dikenal dengan Dayah Cot Trueng adalah salah satu pusat literasi di Aceh Utara. Tidak hanya melek literasi melalui web dan steemit, saat ini dayah tersebut juga merencanakan untuk membentuk radio komunitas agar surah kitab dalam pengajian di dayah tersebut bisa tersebar luas kepada masyarakat.