“Troh kapai, pula lada.” Mungkin inilah kalimat yang tepat untuk menggambarkan betapa telatnya saya sadar untuk posting tulisan di steemit. Ketika orang di sekitar bercerita tentang gegap gempitanya dolar yang didapatkannya dari steemit, saya masih mengumpulkan kekuatan untuk melawan kemalasan dalam diri untuk mempelajari secara serius platform tersebut. Hingga akhirnya, setelah “diteror” dan merasa "terkucilkan" karena tidak punya akun steemit, saya pun posting perdana pada awal Januari lalu.
Namun setelah saya memutuskan bergabung di steemit, berita buruk terus menghantam (mudah-mudahan bukan saya penyebabnya. Hehe). Layaknya orang yang baru hijrah, ujian terus menerpa. Baru beberapa waktu bergabung, harga SBD langsung anjlok. Sama seperti harga bawang merah di pasar yang pernah berada pada angka Rp 100 ribu lalu menghempas pada angka Rp 20-30 ribu saja. Jika sebelumnya kabar tentang harga SBD yang menggoda itu kerap terdengar, maka kini kabar buruk terus meneror. Belum lagi konflik legalitas bitcoin di beberapa negara yang membuat aura steemit semakin menunjukkan wajah durjanya.
Badai yang terus menghantam harga SBD tentu melemahkan semangat banyak steemians. Ibarat tanaman, steemit kini tidak sedang berbunga. Kumbang pun enggan berkunjung karena cintanya pada putik sari tidak lagi seharum sebelumnya. Bagi seorang newbie seperti saya, berita buruk tentang harga SBD yang kian berada pada titik nadir tersebut ikut melemahkan semangat pemula. Keberuntungan seperti tidak mau berteman dekat.
Sebagai seorang newbie, saya tidak mengikuti begitu detail terkait naik turunnya harga SBD. Isu terkait harga di pasar steeemit tersebut biasanya digeluti oleh mereka yang angka steem dolarnya sudah tinggi. Karena disaat yang lain sibuk mengelola “wallet” nya agar terus tumbuh dan berkembang, saya malah masih berusaha untuk istiqamah “one day one post”. Hehee....
Namun terlepas dari itu semua, menulis tetap harus dilanjutkan. Turunnya harga SBD harusnya tidak mengurangi semangat kita untuk posting sesuatu hal yang penting dan menarik. Semoga badai di steemit segera mereda dan putik SBD-nya kembali berbunga. Cukuplah bagi saya “troh kapai, pula lada”. Jika pun terlambat, setidaknya saya masih bisa bergabung dan tidak menguburkan steemit sebelum waktunya.