Jika ditanyai orang kita, siapakah yang paling gencar menggalakkan literasi di Aceh saat ini, maka jawabnya orang tersebut adalah Yarmen Dinamika. Dalam dunia literasi, sepak terjang dan kepedulian beliau tidak diragukan lagi. Forum Aceh Menulis (FAMe) adalah salah satu gebrakan brilian dari Pak Yarmen. Sejak Agustus 2017 lalu hingga saat ini, beliau telah mendeklarasikan FAMe di empat kabupaten/kota: Banda Aceh, Lhokseumawe, Meulaboh, dan Pidie. Setelah itu segera menyusul Kabupaten Bireun, Aceh Selatan, dan juga Aceh Besar.
Nama Yarmen Dinamika sebenarnya sudah sering saya dengar jauh-jauh hari. Bahkan ketika saya belum paham betul bahwa Serambi Indonesia adalah nama sebuah surat kabar. Pertama kali membaca nama beliau adalah di buku “Aceh Bersimbah Darah.” Beliau adalah salah satu penulisnya. Saat itu saya masih SD. Dulu ketika masa konflik, buku tersebut menjadi santapan lahap bagi masyarakat Aceh di tengah kecamuk perang yang kian memanas. Tidak hanya orang tua, buku itu bahkan juga menjadi santapan lahap saya yang saat itu masih berusia 8 tahun. Karena ayah saya suka membaca, beliau sering membawa pulang buku bacaan yang kemudian kerap saya “curi” di lemari bukunya.
Namun sayang, buku yang menjadi cikal bakal saya mengenal nama Yarmen Dinamika itu kemudian disita oleh tentara berbaju loreng. Buku tersebut disita karena keberadaannya dianggap “berbahaya” dan bisa mengancam posisi mereka saat itu. Tidak hanya itu, buku “Atjeh” karangan H.C. Zentgraaff, seorang mantan tentara Belanda yang beralih profesi menjadi wartawan juga menjadi tumbal kecurigaan dan ketakutan mereka akan bangkitnya gerakan perlawanan dari warga desa. Buku tersebut pun ikut disita. Apalagi posisi ayah yang saat itu sebagai kepala sekolah dianggap mampu memengaruhi warga untuk melakukan perlawanan.
Beruntungnya, sebelum buku “Aceh Bersimbah Darah” itu diambil, saya sudah terlebih dulu mengkhatamkannya. Walau sekarang saya merasa ragu apakah masih sanggup membaca buku tersebut atau tidak. Sejarah kekerasan yang ditulis di buku tersebut terlampau mencabik luka dan memepat dada. Di buku itulah pertama kali saya mengetahui bahwa nyawa tak ada harga. Saya sendiri takjub, bagaimana bisa menamatkan buku yang sarat dengan tema pelanggaran HAM itu dibandingkan dengan keadaan saya sekarang yang bahkan membaca berita kecelakaan pun sudah tidak berani lagi. Namun karena saat itu saya belum terlalu paham dengan keadaan yang terjadi, saya membaca buku itu seperti novel yang saya nikmati betul alurnya tanpa 100 persen sadar bahwa kisah di buku tersebut adalah nyata adanya.
Setelah buku tersebut disita, seiring itu pula nama Yarmen Dinamika menguap begitu saja dari ingatan saya. Seiring berjalannya waktu, nama tersebut kemudian kerap saya baca di media walau tidak pernah sekalipun bersua dengannya. Dari itu saya percaya bahwa karya mampu menjejakkan nama penulisnya, bahkan sebelum kita mengenal orangnya. Hingga akhirnya dalam beberapa tahun terakhir, saya bertemu beliau secara langsung. Penulis yang sudah saya kenal namanya sejak masih berusia 8 tahun.
Namun setelah bersua, ternyata sosok Yarmen Dinamika ... (bersambung).