Gajah merupakan salah satu satwa yang dilindungi, sudah semestinya untuk kita jaga kelestariannya. Sering terjadi konflik antara gajah dan manusia, tidak bisa semata-mata kita salahkan gajah yang tidak berakal. Keserakahan manusia dalam mengelola alam ini secara tidak berimbang merupakan faktor utama terjadi konflik.
Gajah merupakan satwa yang bersahabat dengan manusia, hal ini telah ditunjukan oleh moyang kita terdahulu. Gajah bukan hanya sebagai tunggangan kebanggan Sultan Iskandar Muda tapi juga termasuk sebagai armada perang dan juga untuk menyambut para tamu undangan. Hidup berdampingan dengan gajah bukanlah hal baru di aceh, ini merupakan kearifan lokal yang sudah kita lupakan.
Lagi-lagi, keserakahanlah yang mengundang konflik berkepanjangan antar gajah dan manusia.
secara umum satwa menyerang apabila kondisinya terancam atau dengan kata lain untuk mempertahankan keberlangsungan hidupnya.
Tapi manusia yang serakah menyerang untuk memenuhi keinginannya. Serangan manusia serakah bisa dalam bentuk langsung terhadap satwa atau secara tidak langsung. Contoh serangan langsung membunuh gajah untuk diambil gadingnya.
Serangan tidak langsung terhdap satwa merupakan penebangan hutan secara ilegal, penambangan emas secara ilegal dan lain sebagainya yang bersifat merusak ekosistem alam.
Yang sangat kita sayangkan, efek dari kelakuan manusia serakah petani kecil yang menanggung resikonya. Sawah dan kebun mereka dirusak gajah, seperti yang terjadi dalam kabupaten Pidie di kecamatan Mila, Keumala dan Gempang.
Untuk menyelesaikan konflik yang berkepanjangan manusia dengan gajah mesti ada resolusi yang tegas dari pemerintah dan harus didukung oleh semua elemen masyarakat. Manusia serakah mesti ditindak secara tegas.