The longing to thrive in the city of Yogyakarta, Indonesia, as if this city is indeed a place of passion is exciting. When the Media Festival was held in Solo, late 2017, I was with ,
, and
, giving a special time to visit Yogya by road. Fatigue that was beaten because it had to go back to Solo that day in the middle of a narrow time, although the price is too small compared with all the longing that poured in the Gudeg City.
Sunlight at the end of February 2018 which was so blister did not dampen my passion towards Malioboro. The sun will set for longer and the Malioboro segment leaves little warmth that everyone can expect as darkness begins to fall slowly.
I chose to see a good book at the Shopping Center which is behind Taman Pintar, Yogyakarta. Malioboro can wait until night, but Shopping Center will close when darkness.
And in the daytime, people are not too much in the Shopping Center. I am free to get in and out of the row of small bookstores in the Shopping Center without the need to jostle. This is my second visit to the Shopping Center, although I often go to Malioboro. Previously I had bought a book there and newly discovered there is a place to pick up very cheap classic books.
Here is my previous report from Yogyakarta Shopping Center:
https://steemit.com/books/@ayijufridar/berburu-buku-di-taman-pintar-or-hunting-books-at-taman-pintar-or
And Shopping Center will remain one of the goals while in Yogya. Hence, this second report is not the last. There's always an interesting side there to tell, without having to repeat the same story with the same photo angle. With a little creativity, every visitor will get and share a different atmosphere, how many visits there. There is always a different story because Yogya is never the same.
On my first visit, I bought many of the classic books I had just read the responses. Even the book that I bought at the end of 2017 that until now I have not read to completion. But the books cannot be read quickly. They are eternal books that must be on the shelves of everyone, no matter what the world situation is ten or a hundred years to come.
This time I bought a lot of children's books that turned out to be higher than adult books. Books about aircraft executives and fairy tales from around the world are more expensive, probably because they use hardcover and every page consists of luxury.
I am still looking for a classic book that I do not yet have. Finally met some of Milan Kundera's books. Looking for some book titles and reading the synopsis on the back cover, I feel like I've spent two hours in the Shopping Center that is not too big.
I left the Shopping Center through Taman Pintar. The sun still leaves the warmth that I believe will soon end with a dark coming. Time to explore Malioboro. []
Berburu Buku (Lagi) di Shopping Center Yogya
Rasa kangen tumbuh subur di Kota Yogyakarta seolah kota itu memang tempat bersemainya seluruh kerinduan yang ada. Ketika digelar Festival Media di Solo, akhir 2017 lalu, saya bersama ,
, dan
, menyediakan waktu khusus untuk berkunjung ke Yogya melalui jalan darat. Rasa lelah yang mendera karena harus segera kembali ke Solo pada hari itu di tengah waktu yang sempit, bahkan harga yang terlalu kecil dibandingkan dengan seluruh kerinduan yang tercurah di Kota Gudeg.
Sinar matahari di akhir Februari 2018 yang begitu terik tidak menyurutnya semangat saya menuju Malioboro. Matahari akan terbenam sesaat lagi dan ruas Malioboro hanya menyisakan sedikit kehangatan yang memang diharapkan semua orang ketika gelap mulai turun.
Saya memilih untuk melihat buku-buku bagus di Shopping Center yang terletak di belakang Taman Pintar, Yogyakarta. Malioboro bisa menunggu sampai malam, tetapi Shopping Center akan tutup ketika gelap turun.
Dan siang hari itu, orang tidak terlalu banyak di Shopping Center. Saya bebas keluar masuk deretan toko buku kecil di Shopping Center tanpa perlu berdesakan. Ini adalah kunjungan saya yang kedua kalinya ke Shopping Center, meski sudah sering ke Malioboro. Sebelumnya saya sudah pernah memborong buku di sana, dan baru tahu ada tempat penjulanan buku-buku klasik yang demikian murah.
Berikut ini laporan saya sebelumnya dari Shopping Center Yogyakarta:
https://steemit.com/books/@ayijufridar/berburu-buku-di-taman-pintar-or-hunting-books-at-taman-pintar-or
Dan Shopping Center akan tetap menjadi salah satu tujuan dari ketika berada di Yogya. Makanya, laporan yang kedua ini bukanlah laporan yang terakhir. Selalu ada sisi yang menarik di sana untuk diceritakan, tanpa harus mengulang kisah sama dengan sudut foto yang sama. Dengan sedikit kreativitas, setiap pengunjung akan mendapatkan dab berbagi suasana yang berbeda, seberapa banyak pun bekunjung ke sana. Selalu ada cerita berbeda, sebab Yogya memang tidak pernah sama.
Pada kunjungan pertama saya membeli banyak buku-buku klasik yang selama ini hanya saya baca resensinya saja. Bahkan buku yang saya beli pada kahir tahun 2017 itu sampai sekarang belum saya baca sampai tuntas. Tapi buku-buku itu memang bukan untuk dibaca dengan cepat. Buku-buku itu adalah buku abadi yang harus berada dalam rak semua semua orang, tak peduli seperti apakah situasi dunia sepuluh atau seratus tahun yang akan datang.
Kali ini saya membeli banyak buku anak-anak yang ternyata harganya lebih tinggi dibandingkan dengan buku orang dewasa. Buku berisi tentang eksiklopedia pesawat terbang dan kumpulan dongeng dari seluruh dunia itu ternyata lebih mahal, barangkali karena menggunakan hard cover dan setiap halamannya terdiri dari kertas luks.
Saya masih mencari-cari buku klasik yang belum saya miliki. Akhirnya berjumpa dengan beberapa buku Milan Kundera. Mencari beberapa judul buku dan membaca sipnosisnya di sampul belakang, tanpa terasa saya sudah menghabiskan dua jam di Shopping Center yang tidak terlalu besar.
Saya keluar dari Shopping Center melalui Taman Pintar. Matahari masih menyisakan kehangatannya yang saya yakini sebentar lagi akan segera berlalu bersama datangnya gelap. Saatnya menjelajahi Malioboro.[]