Musim Gugur di Aceh
ACEH merupakan provinsi paling barat di wilayah Indonesia sehingga hanya mengenal dua musim; kemarau dan hujan. Musim hujan biasanya terjadi di bulan-bulan yang berakhiran “er” seperti September, Oktober, November, dan Desember. Makanya, pada bulan itu harus menyiapkan ember…
Sementara musim kemarau tahun 2017 menurut prakiraan Badan Metereologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), mulai terjadi Mei – Agustus. Di beberapa daerah, musim kemarau tidak selamanya terjadi dalam siklus tersebut sebab dipengaruhi beberapa iklim yang lain.
Jadi, sebenarnya tidak ada musim gugur di Aceh. Musim gugur merupakan salah satu dari empat musim di negara beriklim sedang dan merupakan masa peralihan dari musim panas ke musim dingin. Saya sudah pernah merasakan musim dingin di Amerika Serikat pada November – Desember 2012 di mana di daerah tertentu saat musim suhu mencapai minus 5 derajat celcius. Satu musim lainya adalah musim semi.
Musim gugur ditandai dengan rontoknya dedaunan sehingga dinamai musim gugur. Jalanan berserakan dengan dedaunan, pohon-pohon menjadi botak dan nyaris terlihat seperti mati. Di beberapa negara Asia Timur seperti Jepang dan Korea Selatan (suatu saat nanti saya yakin ke sana), liburan musim semi termasuk sangat menyenangkan untuk memotret pepohonan. Katanya musim semi penuh warna.
Pepohonan dengan dedaunan yang jatuh ke bumi belakangan ini banyak saya temuka di kawasan Aceh Utara dan Lhokseumawe. Beberapa di antaranya bisa saya foto dengan menggunakan smartphone. Tetapi, banyak juga yang tidak bisa karena saya dalam perjalanan dan tidak mungkin berhenti. Padahal, pepohonan yang daunnya meranggas tersebut jauh lebih indah dari yang ada di bawah ini.
Berbeda dengan musim gugur di negara yang memiliki empat musim, di mana dedaunan yang rontok nanti akan tumbuh kembali, di Aceh pepohonan ini nyaris sudah mati. Tidak ada kekuatan yang membuat dedauanan hijau akan muncul kembali. Begitulah musim gugur di Aceh; ketika dedaunan jatuh ke bumi, pohon pun mati secara menyedihkan.[]
Autumn in Aceh
ACEH is the westernmost province in Indonesia so only recognizes two seasons; dry and rain. The rainy season usually occurs in the months ending "er" such as September, October, November, and December. Hence, in that month must prepare a bucket (ember in bahasa..).
While the dry season of 2017 according to the forecast of the Meteorological Climatology and Geophysics Agency (BMKG), began to occur in May - August. In some areas, the dry season does not always occur in the cycle because it is affected by several other climates.
So, there is no autumn in Aceh. Autumn is one of four seasons in temperate climates and is a period of transition from summer to winter. I've been feeling the winter in the United States in November - December 2012 where in certain areas when the temperature season reaches minus 5 degrees Celsius. Another season is spring.
Autumn is marked by the fall of the foliage so that it is named after autumn. The streets are littered with leaves, the trees become bald and almost look like dead. In some East Asian countries like Japan and South Korea (someday I'm sure of that), spring breaks are great fun to take pictures of trees. She said colorful spring.
Trees with leaves that fell to the earth lately I found a lot in the area of North Aceh and Lhokseumawe. Some of them I can photograph using a smartphone. However, many also can not because I am on the way and can not stop. In fact, trees that leaves the molt is much more beautiful than the one below.
In contrast to the autumn in a country that has four seasons, where the fallen foliage will grow back, in Aceh these trees are almost dead. There is no power that makes the green dash will reappear. That is the fall in Aceh; When the leaves fall to the earth, the tree dies in a pitiful manner.[]
**