HARI kedua di tahun 2018, saya memulai dengan melaksanakan rencana yang tertunda sejak 2017, yakni mengganti paket data yang sebenarnya bisa dilakukan tanpa harus ke GraPARI Telkomsel. Aktivitas di Steemit sangat tinggi sehingga membutuhkan kapasitas internet yang besar. Dengan pindah paket, sebenarnya saya ingin membelanjakan uang lebih besar kepada Telkomsel. Dengan menggunakan kartu Halo, selama ini beban untuk komunikasi terhitung tinggi untuk dompet saya.
Karena ada keperluan lain di luar pindah paket, yakni mengganti kartu As nomor cantik yang saya beli secara khusus, saya harus ke GraPARI Telkomsel Lhokseumawe. Selain kartu As dengan nomor unik itu, saya juga memiliki satu nomor As lagi khusus untuk menelepon. Jadi, satu memakai satu kartu Halo dan dua kartu As. Istri saya memakai satu kartu Halo dan satu kartu Simpati. Dua anak saya juga memakai kartu As. Totalnya, ada tujuh kartu produk Telkomsel dalam keluarga kami. Saya mencatat setiap uang yang saya peroleh dan saya keluarkan. Pengeluaran untuk komunikasi dan internet termasuk yang harus dirasionalisasi.
Ketika mengambil nomor antrean, di kartu antrean terlihat pukul 11:41:09 AM dengan nomor antrean 2002, saya berada dalam daftar pertama antrean. Sambil menunggu, saya membaca buku dan sesekali membalas komentar di Steemit. Beberapa kawan datang dan kami mengobrol. Setelah urusan selesai dan mereka pergi, saya melanjutkan penantian sambil membaca. Sampai pukul 13.00 belum juga dipanggil. Beberapa kawan datang lagi, menunggu lagi, lalu dipanggil, dan pergi lagi.
Bagaimana bisa? Katanya Kartu Halo prioritas dan antrean saya juga tercatat nomor satu. Bagaimana mungkin, orang lain yang datang belakangan, malah mendapat layanan lebih dulu. Saya tanya ke petugas, nomor antrean saya benar atau salah. Soalnya, di layar antrean juga tidak pernah terlihat. Dia bilang sudah benar. “Tunggu saja, nanti dipanggil,” sahutnya.
Pukul 13.45, belum juga ada tanda-tanda dipanggil. Saya lihat, orang yang mengantre “seangkatan” dengan saya sudah tidak terlihat lagi. Makan siang belum, salat Duhur pun belum, dan waktunya hanya tersisa sedikit lagi. Saya kembali bertanya ke petugas dan dia bertanya ke costumer service (CS). “Satu orang lagi,” sahutnya.
Saya pun menunggu lagi. Namun, sampai saya akhirnya memutuskan pulang pukul 14.15, nomor 2002 belum juga dipanggil. GraPARI Telkomsel Lhokseumawe benar-benar menguji kesabaran saya di awal tahun. Saya pikir, itu bukan saja sistem antrean yang kacau, tetapi memang perilaku GraPARI Telkomsel yang tidak profesional.
Ketika saya upload nomor undian ke sosial media, seorang kawan jurnalis di Jakarta dan penulis di Medan menangapi dengan bercanda; Itu antrean sudah kadaluarsa, sekarang sudah tahun 2018, bukan 2002. Ada juga yang bilang, “Sabar sekali mengantre sejak 2002 sampai 2018…!”
Saya tersenyum. Respon yang meredakan kekesalan hati. Saya putuskan tidak akan buang-buang waktu untuk itu. Dua nomor kartu As saya belum saya registrasi. Katanya nanti akan diblokir. Saya menunggu diblokir saja seluruh nomor, dan tidak memakai Telkomsel lagi.
Antrean pertama, kartu Halo yang katanya prioritas, tapi mengantre sejak pukul 11.41 sampai 14.15 belum juga dipanggil. 154 menit mengantre!
Sejak 2016, saya juga membeli saham Telkom (TLKM) di Bursa Efek Indonesia. Tidak banyak, tetapi sedikit pun saya adalah pemegang saham. Jadi, ceritanyanya pemegang saham kecewa berat mendapat pelayana buruk, hahahaha….
Saya sering berkomunikasi dengan pihak Telkomsel di Twitter untuk mengabarkan kekacauan jaringan dan mengeluhkan berbagai masalah dan direspon dengan cepat. Namun, khusus untuk masalah ini, jawabannya sungguh normatif, sehingga saya memutuskan untuk menyampaikan keluhan secara terbuka. Beberapa keluhan saya sampaikan melalui pesan khusus. Jawaban di pesan khusus dan twit terbuka nyaris sama:
“Saya minta maaf untuk ketidaknyamanan yang dialami, Mas Ayi. Mengenai antrean GraPARI tergantung dari kebijakan pada saat jam operasional di pusat layanan tersebut. Terima kasih. –Iwe”
“Terima kasih data yang diberikan. Namun, mohon maaf. Mengenai lamanya antrian di GraPARI disesuaikan dengan banyaknya pelanggan yang datang dan kendala yang dialami oleh pelanggan berbeda-beda. –Kenny”
“Selamat siang, Mas Ayi. Maaf atas ketidaknyamanan yang dialami. Untuk pelanggan yang masuk ke kategori Priority, maka akan mendapatkan perlakuan khusus di GraPARI. Infokan nomor yang digunakan agar dibantu cek terlebih dahulu. Terima kasih. –Nona”
“Berkenan infokan dulu nomor yang digunakan agar dibantu cek. Terima kasih. –Nona”
Alih-alih menambah kuota internet, saya malah memutuskan untuk mengurangi pemakaian dan hanya menyalakan data selular saat sangat penting saja. Semoga GraPARI Telkomsel bisa melayani dengan hati di tengah persaingan operator selular yang kian tinggi.[]