Tidak seperti biasanya, entah kenapa malam ini saya jadi ingin mendengar sebuah lagu Aceh yang dinyanyikan oleh Rialdoni dengan judul "Hana Meu Judoe". Ya, lagu ini bisa di bilang lagu Aceh terbaru yang cukup populer dikalangan muda-mudi di Aceh.
Lagu "Hana Meu Judoe" sendiri adalah sebuah lagu dengan lirik yang sangat menyentuh dari bait ke bait. Lagu ini sendiri menceritakan sepasang kekasih yang berakhir pada perpisahan dikarenakan sang wanitanya telah duluan dijodohkan oleh orang tuanya.
"Lon pike ranup deungon boh pienung, meusapat meutemeng lam saboh batee. Tapi sayang, sayang leupah that sayang hana meujudoe dilon deungon gata."
(Saya pikir sirih dengan pinang, bisa bertemu dalam satu gelas. Tapi sayang, sangat amat sayang, kita berdua tidak berjodoh.)
Begitulah sepenggal lirik yang sangat amat menyentuh hati saya, bukan karena saya mengalami langsung seperti kisah yang ada dalam lirik lagu tersebut. Akan tetapi saya dan beberapa teman pernah ikut merasakan paling tidak kecewa karena hubungan percintaan, yang berujung tidak berhasilnya melaju ke pelaminan.
Jika Rialdoni diputuskan karena perjodohan, banyak diantara kaum adam di Aceh yang berakhir tidak berjodoh karena faktor uang. Ya, karena untuk melangsungkan sebuah pernikahan laki-laki di Aceh harus menyiapkan uang setidaknya 20 juta rupiah. Jumlah itu tentu saja bukan patokan atau standar dari jumlah biaya yang dibutuhkan. Bisa dibilang itu adalah jumlah minimal.
Lalu, bagaimana kalau tidak mengantongi uang senilai 20 juta. Apakah cowok di Aceh tidak bisa menikah? Tentu saja tidak! Akan tetapi adat 10 s.d. 30 mayam sepertinya sudah merambat sampai ke seluruh pelosok Aceh. Ya, sebagaimana biasanya untuk menikah dengan gadis Aceh, dari pihak mempelai pria minimal harus menyiapkan emas mulai dari 10 s.d. 30 mayam, dengan harga per mayam emas mencapai 1,6 juta rupiah.
Sebenarnya nominal tersebut barangkali bukan apa-apa bagi sebagian orang kaya yang ingin menikahkan anaknya. Akan tetapi tidak semua pria di Aceh adalah orang kaya. Inilah yang seharusnya juga perlu ada penyesuaian. Kenapa?
Sepasang muda mudi yang sedang di mabuk cinta pasti akan menghalalkan segala cara untuk bisa melampiaskan hasrat birahinya yang sedang memuncak. Di sinilah letak peran orang tua dalam hal mendidik putra putrinya supaya tidak terjerumus ke dalam perzinahan.
Efek frustasinya karena kekurangan biaya untuk menikah sudah sepatutnya di pertimbangkan oleh semua orang tua. Jika masih saja mengedepankan ego atau adat yang tidak berlandaskan syariat agama yang shahih. Bisa saja di Aceh akan marak terjadinya sek bebas karena efek sulitnya menyiapkan pernikahan dengan pertimbangan biaya yang besar.
Posted from my blog with SteemPress : http://ayuramona.epizy.com/2018/12/02/hana-meujudoe-tidak-berjodoh/