Bila Listrik Sering Padam, Cahaya Hati Jangan Padam
Ketika singgah di kedai kopi untuk melepas penat tadi, pemadaman listrik terjadi. Aku tahu kita semua masih punya antisipasi. Tapi bila terkait hati, siapa yang punya antisipasi bila cahayanya sudah mati?
Sungguh mengerikan bila cahaya hati telah mati. Dimulainya dengan kita tak lagi mampu mendengar Sabda Allah Ta'ala dan dihilangkan nikmat ketenangan hati.
Cahaya hati yang mati menjauhkan dari kedamaian meskipun seseorang sudah meraih kesuksesan. Jiwanya akan penuh kehampaan karena diisi oleh kegelapan.
Langkah awal cahaya hati meredup adalah sikap tidak lagi peduli terhadap sesama, dan membesarnya sikap kecewa pada hidup sehingga lelah berbuat kebaikan.
Selanjutnya cahaya hati akan mati menggelapkan perilaku bila tidak ingin lagi berlaku cinta kasih terhadap sesama manusia dan tidak lagi mengharap ridha Allah Ta'ala.
Semoga kita semua terjauhkan dari matinya cahaya hati.
Semoga kita bersama mampu menjaga tindakan agar nikmat Allah Ta'ala selalu ada mengiringi hari-hari kita semua.
Aku ingat kata-katamu tadi, yang selalu menenangkan hati.
"Gelap di sini," ucapku.
"Gak apa-apa di sana gelap, yang penting hati kamu gak gelap, kan? Cinta aku menerangi hati kamu kan?"
Maka kau tidak perlu mendengar lagi dariku karena kamu telah mengetahui jawabannya.
Karena kamu cahayaku yang dianugerahi oleh Tuhan, untukku selalu merasakan tenang dalam kehidupan.
Cahayaku, jangan khawatirkan tentang aku. Karena sekali sinarmu sudah merasuki hatiku, takkan bisa lagi sinar dari wanita lain yang masuk ke hatiku. Kamu, adalah keinginanku yang satu. Hanya kamu yang kumau.