SUATU Malam di bulan Oktober 2017, sebuah pesan masuk ke WA pribadiku. Kalian bisa membacanya di bawah ini.
Apakah kamu seorang Dokter Hati yang sedang kucari? Aku membutuhkanmu memperbaiki hatiku yang patah. Sebenarnya, aku ingin menuliskan sepucuk surat, namun aku khawatir kau tidak akan membacanya, dan tidak akan membalasnya. Aku akan memberikanmu cintaku, apakah kau bersedia menerimanya?
Aku tertegun dan tidak tahu harus membalas apa. Aku tahu pemilik kata-kata itu siapa, karena kami pernah bersama dalam waktu yang lama. Ya, ketika aku masih berada di kota besar itu. Sebuah kota yang selalu hidup dengan hiruk pikuk ratusan kenderaan dan suara jutaan penghuninya yang seolah-olah tak pernah tidur sepanjang hari.
Sang Pemilik kata-kata itu adalah seorang wanita yang tidak biasa. Dia berparas sangat mempesona dan anak seorang Tokoh besar di tempat asalku.
Foto:
Esok harinya, dia kembali mengirimkan pesan cinta yang sangat sedih.
Sungguh sangat sulit jatuh cinta pada seseorang yang mencintai wanita lain. Hidupku sangat tidak bermakna bila kau tidak menerima cintaku. Dirimu pernah bersamaku, tetapi hatimu telah menjadi milik orang lain.
Aku bertambah bingung. Apa yang harus kulakukan? Aku berpikir bahwa sesuatu pasti telah menimpanya. Dia sedang terluka dalam. Aku membayangkan wajahnya, dan aku tak pernah berharap sesuatu menimpa dirinya.
Apa yang harus kulakukan di saat seperti ini? Aku tak bisa berbuat apa-apa selain membaca berulang kali semua kata-kata yang dia kirimkan padaku.
Aku memutuskan membalas pesan darinya.
Seseorang akan sangat berharga bagi kita setelah dia pergi dan tak lagi bersama. Kenapa kau mengerjarku sekarang setelah dulu kau pergi pada hal aku pernah sangat ingin mempertahankanmu? Aku pernah terabaikan karena sebuah kesalahpahaman, dan kau tidak mau memaafkanku saat itu. Mengapa kini kau datang menumpahkan duka laramu dan berharap aku yang menjadi tong sampah dari puing-puing hatimu yang hancur?
Seminggu kutunggu balasan darinya, lalu muncul di saat fajar hendak menyingsing.
Kamu tidak pernah bisa kuhubungi dua bulan setelah kejadian itu. Aku mencarimu kemana-mana, kau tidak bisa ditemui di tempat-tempat yang pernah kau ajakku kesana. Teman-temanmu menyembunyikanmu. Mereka tidak pernah berikan aku nomor teleponmu. Minggu lalu, aku mendapatkan nomormu dari seorang temanmu setelah aku berusaha mencarinya setiap hari selama 12 tahun! Aku masih jatuh cinta kepadamu yang kutahu masih sangat mencintaiku. Cintaku nyata untukmu. Terimalah aku, dan kau tidak akan ada dalam kesedihan.
Bertubi-tubi dia hujani aku dengan pesan-pesan yang sama. Mereka seperti peluruh yang berdesingan di atas kepalaku.
Jika kunyanyikan untukmu sebuah lagu yang pernah sangat kau sukai, apakah kau mau mendengarnya? Jika kumasak untuk makanan yang kau suka, maukah kau menikmatinya di malam hari? Terimalah hatiku, dan tolong jangan pernah kau patah lagi.
Hai wanita yang pernah kucintai dan sangat kusayangi, aku tak ingin menjanjikanmu sesuatu, apalagi untuk kebahagian hatimu. Aku telah menyadari sepenuhnya bahwa membuat seorang wanita menangis dan membasahi bantal tidurnya di malam hari adalah pekerjaan yang sangat terkutuk. Aku tak ingin mengulangi itu. Tak akan pernah!
Banda Aceh, 17 Oktober 2014.