Mereka bertanya,mengapa aku slalu mengingatmu. Mereka pun juga bertanya, mengapa kamu yang aku selalu kan. Padahal sudah sangat jelas, bukan? Bahwa aku sedang ingin belajar melupakan. Melupakan tanpa harus berujung sesal.
Serta turut melupakan dengan cara yang menurut ku, aku bisa melakukan. Merangkai kata untuk setiap derita agar kisah kita hanya tinggal cerita.
Padamu, cinta hanya kota mati
Malam tanpa cahaya Saat lampu-lampu kota mencair di pelupuk matamu
Sunyi tak ada yang bicara
Hanya hiruk pikuk angin yang kudengar dari balik bilik dadamu
Meski jalan-jalan lengang
Namun tetap saja, aku tak pernah kau persilakan datang
Oleh karena itu, bagi ku lebih baik dituliskan ketimbang di suarakan. Sebab, bukankah cara terbaik untuk melupakan adalah dengan cara mengingat, terluka, jera, lalu berakhir lupa?.
Atau, aku salah?
Aneh,
Hatimu serupa hutan,tetapi sesatnya mampu membuatku bahagia. Hatimu serupa lautan,tapi tenggelamnya membuatku ingin lebih dalam.
Terkadang, hati di tetapkan untuk menempati tempat yg salah agar di kemudian hari kita bisa membedakan. Mana yang benar-benar menetap. Mana yang benar-benar singgah.
Andai yang selesai bisa hilang dan di lupakan tanpa harus berusaha, hati bisa di kembalikan dengan utuh tanpa harus menata, semangat tetap berkobar tanpa harus membakar ulang. Mungkin seseorang tak akan berlomba-lomba mencari kemenangan atas kepergian.
Benar saja, takaran sebuah cinta, adalah cerminan patah hatimu kelak.