Makam ini berada berada di Masjid Lama Padang Tiji Kabupaten Pidie, Aceh. Tidak ada yang menyangka makam tersebut adalah Makam Panglima tertinggi sekaligus Wali Nanggroe terakhir Kesultanan Aceh Darussalam Tuanku Hastmyim Banta Muda.
Beliau lahir di Gampong Lambada dalam Sagi Mukim 26 Aceh Besar tahun 1834 Masehi. Ayahnya bernama Laksamana Tuanku Abdul Kadir, seorang perwakilan di Aceh Timur dari Kerajaan Aceh Darussalam. Tuanku Hasyim Banta Muda memiliki tiga saudara, yaitu Tuanku Raja Itam dan Tuanku Mahmud Bangga Keucik.
Menurut silsilah, Tuanku Hasyim Banta Muda adalah putera dari Laksamana Tuanku Abdul Kadir, ibnu Raja Muda Tuanku Cut Zainal Abidin, ibnu Sultan Alaidin Mahmud Syah, ibnu Sultan Abidin Johan Syah, ibnu Sultan Alaidin Ahmad Syah, ibnu Nuruddin Abdurrahim Maharaja Lela, ibnu Fakih Zainal Abidin Syah, ibnu Malik Daim Mansyursyah, ibnu Abdullah Al-Malikul Amin, ibnu Malik Syah Daim Syah, ibnu Abdul Jalil Daim Husain Syah, ibnu Malik Mahmud Hakim Syah, ibnu Muda Daim Syah, ibnu Hasyim Nuruddin Syah, ibnu Mansyur Syah, ibnu Sulaiman Syah Daim Ali Iskandar, ibnu Malik Ibrahim Syah Daim, yaitu saudara sewali dari tokoh Alaidin yang bernama Machdum Abi Abdillah As Syekh Abdurrauf Al-Mulaqqab Tuan di kandang Syekh Bandar Darussalam.
Saat Belanda masuk ke Aceh, Kesultanan Aceh pada saat itu dipimpin oleh Sultan Alaidin Mahmud Daud Syah. Pada masa inilah Tuanku Hasyim mulai memegang peranan dan turun ke Medan pertempuran menghadapai serangan Belanda. Saat itu juga Aceh mengalami kemunduran disebabkan Belanda menyerang Aceh secara Intensif hingga menyebabkan petinggi kerajaan mengadakan rapat tertutup. Dari rapat tersbut Tuanku Hasyim Banta Muda diangkat menjadi Raja akan tetapi beliau menolaknya secara langsung.
Beliau sendiri lebih memilih Mahmud Syah yang masih berusia belia untuk dijadikan sebagai Sultan Aceh dan Hasyim bersedia menjadi pemangku Sultan Aceh (Wali Nanggroe) sampai Mahmud Syah cukup usia untuk dikukuhkan sebagai Sultan Aceh berikutnya. Tetapi, Sultan Mahmud Syah kemudian terjangkit wabah kolera hingga akhirnya mangkat pada Januari 1874 di Pagaraye, Aceh Besar.
Tuanku Hasyim Banta Muda kembali diminta untuk dijadikan Sultan. Namun ia menolak dan menunjuk Muhammad Daud Syah yang masih belia untuk menjadi Sultan Aceh dan beliau sebagai pemangku Sultan Aceh. Peperangan yang sangat panjang kala itu mengakibatkan Kerajaan Aceh Darussalam harus dipindahkan ke Keumala karena kondisi di Kuta Radja tidak memungkinkan untuk melanjutkan pemerintahan.
Pada tahun 1879 Tuanku Hasyim Banta Muda semakin tua namun jiwa patriot dan semangat jihadnya tetap membara untuk menentang Belanda. Ia menetap di Keumala Dalam bersama Sultan Muhammad Daud Syah. Setelah Sultan Muhammad Daud Syah dewasa, tahun 1894 Tuanku Hasyim Banta Muda beserta keluarganya meninggalkan Keumala Dalam dan pulang ke Reubee Ke rumah Raja Meunasah Runtoh.
Kemudian tahun 1896 ia kembali ke Padang Tiji. Setelah memegang pimpinan selama 20 tahun sebagai pemangku Sultan. Tepat hari Jumat 22 Januari 1897 Tuanku Hasyim Banta Muda meninggal dunia dalam usia 63 tahun dan dimakamkan di samping Masjid Padang Tiji lama di mukim Paloh Kecamatan Padang Tiji Kabupaten Pidie.
Dengan sebuah kesadaran akan pentingnya arti dan nilai bukti-bukti sejarah tersebut yang diterjemahkan pula lewat perilaku yang bersifat melestarikan serta memperhitungkan keberadaanya, maka siapapun baik generasi hari ini maupun masa depan, baik kita sendiri maupun orang kuar, akan dapat menyaksikan sejarah negeri ini terpampang di mana-mana. Warisan sejarah adalah satu diantara penghubung dan pemandu kita ke masa lalu.