Di kampungku, alam adalah lumbung tempat kami mencari nafkah hidup sehari-hari. Kami ke hutan mencari kayu bakar, mencari rotan, berburu rusa, memancing ikan-ikan air tawar, dan sesekali menebang pohon besar untuk sekadar bahan baku bikin rumah kecil.
Adat istiadat kami mengajarkan bagaimana bersahabat dengan alam. Telah turun temurun kami diajarkan untuk menyayangi hutan. Kami mencari apa-apa yang bisa kami gunakan dari kekayaan yang dikandung hutan, dan itu telah dianjurkan untuk tidak mengambil hasil hutan secara berlebihan. Kami diajar berburu untuk sekadar mencari makan. Kami diajar memilih pohon-pohon besar yang kayunya bagus dipakai sebagai material bangunan dan kami menebangnya satu atau dua pohon di antaranya hanya untuk pemenuhan bangunan itu. Tidak pernah lebih.
Berabad-abad lamanya nenek moyang kami hidup sebagai penjaga hutan, dan itu telah diwariskan kepada kami dengan cerita-cerita oral, dengan hukum-hukum adat yang lengkap. Tapi itu adalah cerita masa kecil kami. Sekarang hutan kami telah berubah menjadi ladang tempat para cukong-cukong kayu, pejabat pemerintahan korup, pejabat militer tamak, dan para konglomerat rakus mengeruk harta tanpa pernah jeda.
Semuanya berawal dari kata pembangunan dan investasi. Pemerintah dengan tangan kekuasaannya mengkapling lahan-lahan hutan di belakang rumah kami untuk dibagi-bagikan kepada para pemilik modal. Ini adalah kiamat kecil bagi kami.
Hutan dirambah, pohon-pohon besar ditumbangkan, hewan-hewan liar kehilangan rumah mereka, tanah-tanah digali, batu-batu gunung dicongkel, dan tiap tahun sungai menangis dengan cara banjir bandang yang menghanyutkan rumah kayu kami, membinasakan tumbuhan dan hewan ternak kami.
Sementara para cukong, pejabat pemerintahan korup, pejabat militer tamak, dan para konglomerat rakus sedang berpesta pora dengan harta kekayaan yang dihasilkan dengan merusak hutan di belakang rumah. Kami kerap dijadikan terdakwa oleh para pegiat lingkungan yang saban bulan datang untuk mengajarkan kepada kami kiat-kiat menjaga hutan yang baik dan benar.
Mereka juga membagikan kepada kami brosur-brosur yang berisi istilah-istilah yang tidak kami mengerti, tapi dari itu semua, jelas ingin disampaikan bahwa; seolah-olah kamilah yang telah membikin hutan itu gundul, kamilah yang menyebabkan hewan-hewan liar punah, dan lain sebagainya.
Lalu kiamat kecil itu datang lagi, tepat ketika hujan pertama datang membawa banjir bandang dengan hebatnya. Lengkap sudah. Setelah hutan kami dirambah dengan hebatnya oleh kawanan orang-orang tamak, rakus, loba, serakah, kemudian kami didakwa oleh para aktivis lingkungan yang sok intelektuil sebagai orang yang tak tahu untung. Pelengkapnya adalah kami jadi tersangka yang pantas didera oleh amuk alam dengan kedatangan banjir bandang hampir setiap tahunnya.