Meja makan dekat kulkas dan kompor. Tempat aku meringkuk kini, sementara di luar angin dan hujan bersekutu mengepung rumahku. Istri dan anakku telah tidur sedari tadi. Aku sebaliknya. Insomnia telah bersarang di saraf tidurku sejak zaman kuliah dulu hingga detik ini. Insomnia cukup terkutuk memang. Selain terkutuk, insomnia benar-benar dungu, bebal, dan tak tahu malu.
Pertama meringkuk di tubuhku, aku selalu mencari cara mengenyahkannya segera. Tapi apa boleh buat, cara apa pun (kecuali pil tidur--aku tidak suka berurusan dengan segala jenis obat-obatan) yang pernah kutempuh tidak juga membuatnya pergi. Hingga pada akhirnya sedikit demi sedikit aku melunak dan berpikir, barangkali insomnia adalah bagian dari tubuhku ini.
Masalahnya, insomnia tidak hanya terkutuk. Ia juga dungu, bebal dan tidak tahu malu. Ketika perlu bangun pagi, aku mencoba bernegosiasi dengannya. Hasilnya sungguh menyakitkan. Alih-alih membantu, insomnia malah membenamkanku dalam lautan empuk bantal tepat di saat alarm bangun pagi berbunyi. Ujung-ujungnya; ingkarlah segala janji pagi hari.
Pengalaman-pengalaman seperti itulah yang membuatku sering merutukinya. Mengumpatnya sekuat tenaga, memaki, dan kalau tidak akan terjiprat ke wajahku sendiri akan kuludahi wujudnya berkali-kali. Celaka, insomnia tak pernah menampakkan wujud fisiknya, dan, ya: ia memang tak punya wujud sama sekali.
Pernah aku bertanya pada orang pintar di kampung-kampung terjauh. Mereka hanya akan menggeleng kepala ketika kuutarakan keluhanku ini. Tapi ada juga yang berpendapat, insomnia itu bukanlah insomnia. Tapi jin peronda yang tidak punya pekerjaan lain kecuali berkeliaran di pikiran orang-orang tepat ketika tiang listrik dekat rumah berdentang dua belas kali.
"Maka cara membunuh jin maha terkutuk itu adalah dengan mengumpulkan kapas congkel kuping bekas sebanyak satu kotak tisu. Minyak kayu putih, air mawar, bedak Mei Ji, dan satu lagi yang paling penting: getah pelepah rumbia," terang Ben Beuransyah. Salah satu orang pintar yang pernah kutemui.
Minyak kayu putih, kata Ben Beuransyah, dan air mawar, berikut bedak Mei Ji dicampur dalam satu wadah. Diaduk rata hingga menyatu, hingga satu pun dari bahan itu bisa mengenal dirinya lagi. Hingga satuan bahan-bahan tadi menyerupai adonan kue bolu. Getah pelepah rumbia ditempatkan dalam wadah terpisah. Boleh dalam botol, boleh juga dalam wajan besar tergantung seberapa banyak kau bisa mengumpulkan getah yang langka itu.
"Setelah semuanya siap. Gunakan kapas congkel kuping bekas dalam kotak tisu tadi. Mula-mula kapas itu kau celup dalam adonan pertama hingga merata, lalu giliran getah pelepah rumbia pada celupan kedua. Oleskan ke seluruh kelopak mata, kiri-kanan, dan jangan sesekali membuka tutupan yang telah diolesi ramuan itu sebelum kering," kata Ben Beuransyah menerangkan aturan pakai.
Aku masih di meja makan. Insomnia masih setia menemaniku. Sementara rumah sudah bebas dari kepungan angin dan hujan. Giliran jangkrik dan kodok menghidupkan pita suara mereka. Sesekali terdengar anjing melolong dari kejauhan, lamat-lamat dengan cengkoknya yang meyayat.
Ramuan resep Ben Beuransyah tak pernah kuracik. Atau ketika berniat akan meraciknya, semangat itu langsung buyar, mengingat apa yang harus kulakukan pada langkah pertama: kumpulkan kapas congkel kuping bekas sebanyak satu kotak tisu.
Pertanyaannya, kuping siapakah yang harus kuintai dengan cermat dan seksama?