Aku kenal Bitcoin bersamaan dengan mengenal platform yang telah menyihirku selama lima bulanan ini: . Kubaca-baca banyak artikel tentangnya dan hampir semua selalu terhubung dengan istilah-istilah cryptocurrency yang rumit betul untuk bisa dipahami oleh seorang awam sepertiku. Tapi dari semua bacaan yang ada, satu artikel wawancara portal nasional, tirto.id dengan CEO Bitcoin Indonesia, Oscar Darmawan, benar-benar bisa mencerahkan otakku yang awam.
Di antara pelbagai ulasan-ulasan yang dijabarkan dengan detil oleh Oscar dalam artikel wawancara itu. Satu pernyataannya yang kupegang dan kujadikan satu pemahaman paling mendasar memahami Bitcoin adalah ketika ia menyebut; jangan samakan Bitcoin itu dangan mata uang. Tapi lihatlah Bitcoin sebagai emas digital.
Bicara emas, aku jadi ingat dengan tambang-tambang emas tradisional yang ada di Aceh, apakah di Geumpang, Teunom, atau bahkan di Manggamat sana. Tapi itu semua tambang emas dunia nyata. Dalam halnya emas digital, sampailah aku pada kaitannya dengan hasil-hasil bacaan sebelumnya. Bahwa, ternyata ada orang yang tak keluar kamar sampai berhari-hari, melototin layar komputer terus kecuali saat ingin makan-minum, berak, dan tidur, dimana kegiatan yang tak masuk akal rasionalku itu disebut sebagai penambang Bitcoin.
Mengingat harga emas digital sekarang benar-benar menggiurkan. Dimana dengan 1 Bitcoin saja bisa setara dengan harga 16666 bungkus nasi (harga standar nasi perbungkus Rp15 ribu). Yang dengan jumlah bungkus nasi itu bisa membuatku tak khawatir akan bahaya kelaparan selama lebih kurang 15 tahun (pembagiannya begini: 16666 bungkus nasi bagi 3 kali makan dalam sehari. Hasilnya dibagi lagi dengan jumlah hari dalam setahun).
Dari hitung-hitungan kasar itu, aku bertekad mesti punya cara untuk mendapatkannya. Dan ketika tahu bahwa dengan berbagi kreatifitas di steemit, jalan menuju 1 Bitcoin (maunya lebih) bisa terbuka lempang tanpa halangan, tak perlu susah-susah nambang seperti orang-orang yang tak keluar kamar itu. Aku pun meng-khusyu'-kan diri di sini. Sampai kapan? Mungkin hingga lewat 15 tahun ke depan. Bagiku menulis sungguh enak ketika perut dalam keadaan kenyang. Nyan ban!