BAGAIMANA PUN ringkihnya Kota Banda Aceh. Ada hal-hal tertentu yang membuat kita mencintai kota ini sebagaimana kampung lahir sendiri. Ada banyak hal yang melekatkan kaki kita di sini, yang kadang-kadang bikin kita malas beranjak kemana-mana. Ini tentu saja sebanding dengan keinginan tiba-tiba yang kerap menggerayangi pikiran untuk lekas-lekas keluar Banda Aceh barang beberapa waktu lamanya.
Ada banyak hal yang tak masuk akal terjadi di Banda Aceh. Tapi menafikan pelbagai kebajikan-kebajikannya bukanlah sesuatu yang bijak pula. Untuk membuktikan kebajikan-kebajikan yang kumaksud kau cukup keluar rumah pada satu sore yang cerlang sebelum buka puasa. Susurilah jalannya yang makin hari makin sesak, dan nikmatilah kesederhanaan orang-orang kita dalam berkendara.
Kita patut bersyukur pihak pemerintah kota masih percaya bahwa mulus dan bersihnya jalan utama adalah perlambang baik buruknya make up kota. Meski di pihak lain kita kerap mengumpat ketika mendapati air PDAM masih tersendat-sendat mengucur di bak mandi rumah sehabis pulang jalan-jalan sore. Kita mesti berbangga pula dengan kondisi taman-taman kota yang kian rindang dan meriah oleh warna-warni beragam bunga. Kendati di pihak lain, instansi militer makin mencengkeramkan kukunya di tanah wakaf yang enggan kita sebut nama.
Kecuali baliho-baliho sekalian isinya yang kian centang perenang saja. Sampah visual itu bisa terabaikan dengan menikmati kesederhanaan cara berkendara orang-orang kita seperti yang kusebut tadi. Bahwa ada ibu-ibu paruh baya yang bersepeda motor santai, tak buru-buru, tapi lajur yang diambilnya tepat di tengah. Hingga sebuah mobil Pajero yang tengah mengejar sesuatu di belakangnya bingung harus memotong dari sebelah mana, adalah pertanda bagaimana jalanan kota kita telah membuat semua penggunanya tampak sama derajat.
Masalah sama derajat antar warga kota, kiranya Banda Aceh sudah selesai dengan perihal ini. Itu bisa jelas terlihat di kedai-kedai kopi, pun di masjid atau di meunasah jangan dipertanyakan lagi. Di kedai kopi siapa pun bisa menyamaratakan bahunya dengan setara. Kau bisa dengan santai menarik kursi kosong di depan meja yang telah diduduki seorang pejabat, misalnya. Atau sekira ada seorang Bupati yang duduk bergerombol dengan anak buah dan para penjilatnya di meja sebelah. Kau juga bisa bebas meminta sebatang rokok pada orang-orang di meja itu. Hanya saja ini mesti bermodalkan sedikit tebal muka.
Tapi di luar itu semua, satu hal paling menarik untuk kuceritakan di sini adalah apa yang pernah kusaksikan sendiri beberapa bulan lewat. Itu pada satu sore yang cerlang. Aku pulang dari Pasar Aceh. Menyusuri Jalan Teungku Muda Wali setelah sebelumnya memutar Masjid Raya Baiturrahman, dan berbelok ke jalan itu tepat di pangkal Jalan Mohd. Jam.
Satu unit becak pengangkut yang dengan kecepatan sekuasa-kuasanya dia punya, menyalip satu mobil pejabat kepolisian. Dan tahu-tahu ia menginjak rem dalam-dalam tepat setelah berada di depan mobil polisi itu, hingga sang pejabat polisi menurunkan kaca mobilnya untuk sekadar memelototi si pengendara becak itu. Hebatnya, pun setelah agak berjarak dengan mobil polisi yang melaju di depannya lagi. Tepat ketika laju motorku bersisian dengan titik pemberhentiannya yang tiba-tiba itu. Sempat-sempatnya si bapak becak menyelutuk, "Kon jalan lakoe ma kah!"