TADI SORE AKU jumpa ngopi dengan seorang teman. Bukan dengan Donat Tram, si teman khayalan. Tapi ini teman dunia nyata yang telah bertahun-tahun berprofesi sebagai seorang guru lintas generasi. Maksudku lintas generasi, ia mengajar di banyak tempat. Mulai dari TPA, SD, MTsN, Pesantren Terpadu, dan baru-baru ini paska menyelesaikan studi magister kependidikannya di UIN Ar-Raniry ia sudah mulai mengajar pula di kampus.
Pun sudah bertahun-tahun mengajar di sana-sini-situ, ia belum juga diangkat jadi pegawai negeri. Tapi dasar si temanku ini punya keyakinan yang tak bisa ditawar-tawar lagi; Allah ta'ala Maha Kaya--sesuai seperti yang kuyakini juga. Ia tak pernah repot-repot atau sibuk menggebu-gebu urus berkas ini itu ketika musim penerimaan calon pegawai negeri sipil dibuka.
"Meski tak jadi PNS, alhamdulillah dengan mengajar selama ini, saya sudah bisa menyelesaikan S2 tahun kemarin, sanggup beli mahar buat menikah tahun kemarinnya lagi," terangnya suatu waktu.
Tapi yang jadi soalan si teman dalam setahunan terakhir, lebih-lebih ketika ia harus menyelesaikan tesis. Menulis adalah sesuatu yang melulu mengganggu tidurnya, juga mengganggu nafsu makannya. Bukan mengapa, itu tak lain karena setiap konsul tesis dengan dosen pembimbingnya ia selalu direcoki (baca: diomeli) berkenaan dengan tulisannya. Kata dosbing (dosen pembimbing), tulisannya tak lebih sama seperti mahasiswa S1 bikin makalah.
"Sejak diomeli terus-terusan oleh dosen itu, aku selalu terngiang-ngiang gimana caranya bisa menulis. Lebih-lebih menulis bebas seperti artikel di koran atau majalah atau di internet. Sudah banyak kucoba-coba tetapi selalu mentok aku mau menulis apa, selalu mentok aku mesti menulis bagaimana," curhat si teman tadi.
Mendengar dia ngobrol, aku cuma bisa nyengir, nyulut rokok, seruput kopi sedikit, lalu hisap rokok lagi. Entah karena aku tidak meresponnya setelah dia curhat panjang lebar, tiba-tiba dia nyerocos lagi dengan intonasi sedikit meninggi. "Kau malah nyengir aja nih. Bukannya kau kasih tahu ke aku kiat-kiat menulis itu bagaimana."
"Aku bukan penulis, aku tak pernah bikin tesis. Jadi apa yang mau kukasih tahu ke ente, coba?"
"Tapi kau kan banyak menulis panjang-panjang di status fb? Aku sering baca dan kasih jempol juga."
"Iya. Tapi yang aku tulis itu banyak tentang hal remeh temeh, tidak penting."
"Nah itu dia. Kata dosen pembimbingku dulu, baiknya aku mesti belajar menulis hal remeh temeh dulu. Cocokkan? Kau ajarin akulah."
Merasa terjebak dengan jawabanku sendiri, dengan keterpaksaan karena merasa diri belum mengetahui banyak soalan kiat-kiat menulis. Maka kuterangkan saja padanya sesuai dengan apa yang kulakukan sendiri ketika hendak menulis, khususnya hal remeh temeh itu tadi.
Kukata pada si teman, menulis bebas itu mesti melulu dengan tulis, baca, baca, tulis, tulis, baca, baca, baca, tulis, baca, baca, baca, baca, dan seterusnya, tulis, dan seterusnya baca-baca lagi. Terang saja si temanku bingung. Katanya dia sebagai seorang guru kurang baca apa lagi? "Kau kurang baca tulisan-tulisan di luar bahan ajar yang kau punya. Itu yang kurang," kataku, yang disetujuinya dengan dua kali anggukan.
"Jadi aku harus banyak baca buku dengan tema beragam ya?"
"Itu wajib. Karena dengan membaca kita jadi kaya kosa kata, kita punya banyak cara ungkap, dan yang terpenting kita tidak terjebak dengan penggunaan kata yang itu-itu saja."
"Kalau begitu, coba kau rekom tulisan-tulisan yang bagaimana untuk kubaca malam ini. Jangan rekom buku dulu, karena aku sedang agak seret buat beli buku."
Menjawab pertanyaannya kusebutlah padanya beberapa nama web seperti tirto, mojok, beritagar, lakonhidup, sastraalibi, fiksilotus, steemit.com/@bookrak (kapan lagi aku ambil untung?), dan beberapa nama web yang aku sudah lupa.
"Kalau nama-nama penulisnya?"
"Kau boleh cari di google nama-nama seperti Nezar Patria, Azhari Aiyub, AS Laksana, Zen Rs, Eduardo Galleano, Seno Gumira Ajidharma, Eka Kurniawan, Tere Liye boleh juga, atau kalau kau agak susah hafal nama yang terakhir tadi boleh kau ganti dengan Enny Arrow."
Si temanku mengangguk-angguk. Senyumnya lebar, roman mukanya semringah. Aku tersenyum puas sambil sedikit merasa geli hati selepas merekom nama yang terakhir tadi. Lalu, si temanku melambai tangan ke si pelayan kedai kopi, ia rogoh dompet, keluar lembar lima puluh ribu, ia bayar semua termasuk pesanan rokokku. "Sudah mau maghrib. Kita pulang ya."
"Kabereh, terima kasih, besok-besok jangan lupa ajak ngopi lagi," jawabku sambil tertawa-tawa. Lalu kami pun berpisah, ia pulang ke Lampriet, aku belok arah menuju Simpang Kodim.
Nah tadi, kira-kira 50 menit lewat si temanku kirim pesan via WhatsApp. "Geuthat ka puep chok. Cukup hebat rekom tulisan Enny Arrow. Aku jadi pingin bercinta segera. Sialnya istriku sedang naik bendera."
Kubalas, "Sesekali jangan sungkan coli meski sudah punya istri. Hitung-hitung sekadar bernostalgi masa-masa lajang di kostan penuh sepi!"
"Wodefak!" Balasnya lagi. Tapi tak kugubris lebih lanjut, sebab sejak pesannya masuk tadi, aku seperti dapat ilham mau menulis apa malam ini.