Pada hamparan gunung yang memanjang, di ketinggian nyaris menyentuh awan, kami menyaksikan kehancuran.
Ribuan hektar hutan dicukur, menyisakan deretan gunung yang gundul, lalu diganti dengan jagung dan sawit.
Iya, beginilah pemandangan di sebagian hutan di Aceh Tenggara yang dikenal sebagai kawasan penghasil jagung terbesar di Aceh. Posisinya yang berbatas langsung dengan Sumatera Utara membuat semangat pertanian tumbuh pesat di kawasan ini. Setiap tahunnya ribuan ton jagung diangkut ke pabrik-barik di Sumatera Utara untuk diolah manjadi berbagai produk; namun sayangnya hutan menjadi hancur.
Ini hanya sekilas gambar perjalanan kemarin; saat kami melaju dengan cukup hati-hati di sepanjang lintasan terjal penuh debu.
Di langit, kabut hitam menggumpal pada jarak yang terlalu dekat, seakan bisa digapai, dan angin terasa semakin dingin. Kami harus berburu waktu. Memaksakan mobil melaju kencang, karena jika hujan sampai turun kami akan terjebak, bisa berhari-hari, hingga jalan kembali kering berdebu.
Tapi keberuntung memang selalu berpihak pada orang-orang kurus seperti saya. Saat hujan mengguyur pada sore harinya, kami telah berhasil mencapai jalan raya, lalu melintas perbatasan di bawah gelegar petir dan berhasil menyusup ke Sumatera Utara dengan plat mobil "BL" yang telah mati. Semoga polantas memang selalu tidur dalam dengkur yang panjang, sepanjang durasi hujan yang terus mengguyur tanpa ampun.
Di sepanjang perjalanan, saya kembali terbayang pemandangan memilukan. Hutan yang hancur, warga miskin dengan gubuk reot nyaris ambuk dan senyum bocah-bocah yang terpaksa menanggung perihnya hidup di pedalaman penuh hantu.
Iya, mereka hidup di bawah gangguan hantu-hantu yang menawarkan kemiskinan, hantu kemelaratan dan segala hantu yang membuat hidup terasa begitu menyakitkan.
Hingga berjam-jam kemudian saya terdiam. Tak mudah berkesimpulan. Siapa yang harus disalahkan. Kehancuran alam, kemiskinan dan kemelaratan.