Ada suasana berbeda beberapa bulan belakangan ini, ketika saya bergabung dengan teman-teman ngopi di warung kopi biasa, topik obrolan pun mulai berbeda. Awalnya saya tidak terlalu memperhatikan, tetapi makin lama makin intens sepertinya. Dan ya..!, topik yang berbeda itu adalah tentang #steemit.
Meskipun frekuensi saya ngopi belakangan ini mulai jarang, tidak setiap hari seperti dulu. Saya tetap berusaha mengikuti perkembangan para stemian, terutama stemian yang saya kenal seperti bang Adi W (), bang Hamid (
), Hafidh (
) dan bang Murthala (
). Ternyata beberapa postingan mereka yang sempat saya baca keren-keren dan tidak membuat bosan pembaca.
Bulan lalu, melalui WA grup teman baik saya Alfian kembali mengejutkan saya dengan bergabung dengan steemit, sah menjadi steemian dengan akun . Ah.., hebat kawan.! Jelas ini semakin membuat saya penasaran dengan steemit. Apatah lagi di urusan sosmed lain, saya dan alfian sepertinya setipe, hanya baca-baca saja, sekali-kali like dan comment, jarang posting.
Rasa penasaran itu makin membuncah, saat membaca postingan para stemian yang kadang di share ulang melalui platform sosmed lain, dan kadang kadang melalui WA grup. Saya merasa ada sesuatu yang menarik dan berbeda di steemit dibanding dengan sosmed lain, Postingan yang saya baca, rata-rata fresh (bukan jiplakan), runtut, santai, tapi serius. Saya merasa "in" dengan cara bersosmed di steemit.
Dengan berbekal sedikit pengetahuan setelah searching dan googling, saya mendaftar di steemit dengan akun pada minggu ketiga bulan April, nama ini saya pakai karena itu panggilan akrab saya, khas dan nama pertama saya di akun sosmed. Dan benar seperti cerita para stemian, kita tidak langsung di approve oleh steemit, tapi harus menunggu dengan sabar, bisa seminggu, dua minggu bahkan ada yang lebih.
Akhirnya pada 10 Mei 2018, sebuah email dari steemit pun sampai, tapi sayangnya saya baru mengecek notifikasi email di smartphone seminggu kemudian. setelah melakukan perintah yang diminta oleh steemit, Saya pun sah memiliki akun steemit.
Tapi..!, tantangan selanjutnya muncul, mau bertanya sama siapa tentang cara ber#steemit yang benar. Saya memutuskan untuk bertanya kepada para stemian teman-teman ngopi. Dan kebetulan saat membuka WA grup habis tarawih tadi malam, ada info para stemian ngumpul ngopi di Leuser Coffee jalan P. Nyak Makam, salah satu jalan utama pusat bisnis kota Banda Aceh yang membentang hampir 3 km dari depan kantor Gubernur ke simpang BPKP. Dan arahan pertama senior saya , segera buat postingan pertama, perkenalan diri.
Saya Bulqaini Djazar, teman teman akrab saya memanggil saya cek bul, delapan tahun terakhir saya berkutat sebagai laboran di salah satu laboratorium pemerintah. Sebelumnya, sejak saya selesai SMA, akrab dan menyukai kegiatan sosial dan kemanusiaan. Bahkan pernah terlibat langsung dalam kegiatan kemanusiaan di beberapa fase #konflik aceh dan pasca #tsunami.
Saya merasa bersemangat dengan steemit ini, karena menawarkan jalan keluar dari salah satu hobby lama tidak tersalurkan yaitu menulis. Mudah-mudahan ini bukan semangat sesaat. disamping itu tidak lagi merasa "terasing" ketika cerita tentang steemit mengalir di saat ngopi dengan teman dan senior.
Tentu sebagai pemula, saya harus banyak belajar dari teman teman disini sekaligus terus mencoba berkarya. Mudah-mudahan dengan steemit saya bertambah teman dan memperluas silaturahim. Mohon bimbingan dari para senior.
Salam dan Terima Kasih..!
Bulqaini Djazar