Laskar Pelangi
Takkan terikat waktu
Bebaskan mimpimu di angkasa
Warnai bintang di jiwa...
Begitulah sepenggal lirik sebuah soundtrack hit dari film Laskar Pelangi yang juga mendulang kesuksesan pada tahun 2008 silam. Gaungnya hingga kini masih terasa dan memberi efek yang cukup baik bagi perkembangan pariwisata Belitung.
Setiap mengingat nama Belitung, kenangan saya langsung membongkar arsip-arsip kenangan pada pulau yang kaya akan kandungan timah ini. Kenangan paling berkesan adalah saat saya dan kedua sahabat seperjalanan berkemah di pinggir Pantai Tanjung Kelayang. Menikmati malam di lokasi syuting film Laskar Pelangi ini tentu memiliki sensasi tersendiri. Pikiran saya membayang-bayangkan adegan film ketika Lintang dan kawan-kawannya sedang bermain di atas bebatuan granit raksasa ditemani Bu Muslimah. Saya rasa kenangan pada film itu susah luntur di ingatan.
Petualangan kami esok hari dimulai dengan island hopping dari Pantai Kelayang ini menuju Pulau Lengkuas dan beberapa pulau kecil sebelumnya. Saya tak berhenti mendecakkan rasa kagum pada indahnya pantai ini. Bebatuan granit raksasa yang mencuat tinggi dari permukaan pasir halus, pepohonan hijau lebat yang asri, dan warna laut hijau tosca di perairan dangkalnya.
Saat itu saya bertanya mungkinkah ini yang disebut kepingan surga yang jatuh ke Bumi? Tapi entahlah, saya belum pernah ke surga dan saya pun tak yakin jika surga bisa pecah dan kepingannya jatuh ke Bumi.
Karakteristik pada gugusan pulau-pulau kecil di sekitar Pulau Lengkuas ini semua memiliki kesamaan: dipenuhi oleh batu granit. Mereka tersebar di penjuru pulau, bahkan di tengah laut pun terlihat mencuat, membentuk pulau-pulaunya sendiri. Orang memberinya nama sesuai bentuk batu-batu itu. Jika mirip kepala burung, disebutlah ia Pulau Batu Garuda. Jika menyerupai sepasang kepala yang berdekatan, dinamainya pula dengan Pulau Batu Bercinta.
Selain jelajah pulau, kegiatan lain yang kami lakukan adalah snorkeling di dekat Pulau Lengkuas. Sebenarnya terumbu karang yang tumbuh di bawah perairan ini tak begitu menarik karena banyak karang yang rusak. Tapi saya sangat tertarik dengan mercusuar yang berdiri menjulang di tengah pulau. Dari atas sana saya lagi-lagi dipukau dengan pesona laut dari ketinggian. Saya rasanya ingin menyatu dengan mercusuar ini agar dapat memandangi pemandangan indah ini selamanya.
Pulau ini sangat indah. Bahkan keindahannya membuat saya betah berlama-lama di sana. Saya berdoa agar Tuhan memberi saya rejeki untuk bisa menetap di Belitung. Punya rumah dan keluarga di pulau cantik ini. Membesarkan anak-anak saya, menua, dan mungkin mati di sini. Ah, beginilah kalau sudah jatuh cinta. :D