Alkisah diceritakan, suatu ketika di musim rendheng, disuatu desa yang terletak jauh di pinggiran wilayah negara Astina. Istri Arjuna, Srikandi yang paling terkenal dengan kecantikannya, bahenol dan juga paling populer karena kemampuannya dalam bidang keprajuritan, bertemu dengan Ki Lurah Petruk Kantong Bolong (Petruk adalah simbol orang yang selalu menerima kebenaran, mau menerima ilmu baru dari siapapun, kapanpun dan dimanapun, dia selalu terisi dengan kebenaran dalam jumlah yang tidak terbatas). Punakawan anak dari Kiai Semar itu kemudian bertanya kepada Srikandi.
“ Srikandi, bagaimana hubunganmu terhadap Abimanyu?”
“ Abimanyu sudah aku anggap anakku sendiri yang lahir dari rahimku. aku sayangi setulus hati,” jawab Srikandi, putri dari prabu Drupada dengan permaisuri Gandawati ini.
Abimanyu, anak Arjuna dengan istri pertamanya, Subadra. Dalam lakon Wahyu Widayat, Abimayu, nama ini diberikan oleh Werkudara alias Bima, saat itu Bima yang sedang dalam laku menjaga agar wahyu tersebut tidak hilang dari dirinya. Namun keajaiban terjadi, wahyu yang sejatinya sudsh menyatu dalam diri Bima (Ksatria ini bersenjata Gada Rujakpolo) justru malah berpindah ke diri jabang bayi anak Arjuna dan Subadra, dan untuk menandai peristiwa tersebut muncullah nama Bimanyu- Bima wahyu.
“Kalau ada orang yang berusaha mencelakai Abimanyu, apa yang akan kamu lakukan?” Petruk kembali bertanya.
“Anakku akan aku lindungi dan akan aku tumpas sampai habis siapapun yang berani menganggunya!!,” jawab Srikandi.
“Anakmu saat ini sedang dituduh menjadi pencuri dampar kencana. Ada orang hebat yang hendak menghukumnya,” Petruk semakin menegaskan omongannya.
“Siapa orang itu paman Petruk?”
“Jangan kaget, dia Arjuna.!”
Akhirnya, Tak dapat terelakkan, geger palagan saat kehadiran Arjuna dihadang Srikandi, tidak lagi dengan senyum indah seperti biasanya. Namun dengan amarah. Panah Hrusangkali dilepaskan, melesat melebihi kecepatan suara, mobat-mabit saling berkejaran, saling tangkis dan serang dengan panah Panah Candranila.
Moment Ketika lagi nonton bareng Wayang Kulit di Kampung