Tidak ada ember, tidak ada gayung dan tidak ada tisu di WC ini. Kau hanya menemukan sebuah closet dan sebuah selang semprot, yang cipratan airnya itu memiliki kekuatan menyemprot yang agak lumayan kencang, sekiranya ia sedikit mampu membersihkan duburmu itu. WC ini memiliki dinding yang tak tertutup penuh ke atas, pun tak tertutup sampai ke bawah, sehingga kakimu kelihatan dari luar dan kegiatanmu di dalam terdengar sampai keluar.
WC ini kutemukan di toilet salah satu kampus yang ada di Yogyakarta, tak bisa kusebut namanya, karena itu rahasia. Kebanyakan teman-teman yang dari kampung mengeluh dengan kondisi WC seperti itu. Bayangkan saja ketika buang hajat di WC itu sambil jongkok, sementara di luar disesaki oleh mahasiswa. Pas ketika "doi" cemplung ke dalam closet dengan suara "pluungggg" tanpa ada suara dari keran air, apakah hal itu tidak membuatmu malu saat keluar dari WC? Itulah kenapa kita harus memiliki siasat untuk menyembunyikan suara yang selama ini kita anggap aib itu.
Saya pikir, sepertinya closet duduk di kampus ini diperuntukkan untuk orang-orang difable, melihat adanya simbol difable dan fasilitas untuk difabel disetiap penjuru kampus. Hal ini membuat kita salut terhadap kebijakan dari kampus, karena memprioritaskan kebutuhan orang yang berkebutuhan khusus. Namun, melihat dari banyaknya toilet yang hanya berisikan closet duduk, kita yang terbiasa dengan closet jongkok, harus beradaptasi dengan gaya jongkok di closet duduk ini. Mungkin dengan cara kita masing-masing agar tidak timbul suara yang dianggap aib itu, entah bagaimana caranya. Kita harus memiliki siasat tersendiri untuk menyembunyikan suara itu, agar kita bisa saling mengerti satu sama lain, itu saja. sekian & semoga cintamu padaku tak pupus, love you!