Rambo, nama kucing kesayangan kami di Asrama Sabena. Konon katanya, setiap ada kucing yang dibawa ke asrama pasti diberi nama Rambo. Namun kali ini Rambo yang dimaksud adalah Rambo generasi ke-10. Semenjak Rambo di datangkan ke asrama, dia seperti kucing hias saja, mesti diberi umpan, yang harga umpannya itu lebih mahal daripada nasi padang. Jika diberi ikan, jangan harap ikan itu nantinya akan dimakan olehnya, walaupun diberi kepala ikan dari kuah asam keu-eung sekalipun.
Rambo terbilang kucing yang cukup manja, ia suka tidur di sisi kami kala matahari terbit. Ia sering mengeluarkan suara saat pagi, entah dengan maksud membangunkan kami atau mungkin dia suka bersuara saat pagi saja. Rambo suka tidur dimanapun, bisa saja di depan wc, dalam semak-semak, di atas sofa, di rak sepatu atau di sudut-sudut lainnya. Namun, tidurnya Rambo agak berbeda dengan kucing-kucing lain, Rambo tidur terlentang, sesekali kami mendapati Rambo sedang horny sampai-sampai bohlolo-nya itu tegang saat tidur.
Lambat laun Rambo semakin sadar, kami mulai tak sanggup membelikan umpan elit itu untuk ia makan. Kadang, saat kami makan, ia pun mulai coba mendekat. Kami coba memberinya sedikit daging ikan, dan yang mengejutkannya Rambo memakan daging ikan tadi. Naluri kucingnya mulai bangkit, kini Rambo sudah mulai memburu tikus, walaupun hanya ia gigit-gigit saja leher tikus itu dan meninggalkannya di bawah meja atau di bawah tangga, kalau tak cepat-cepat dipindahkan, bau bangkai tikus itu akan tercium seisi asrama. Setiap Rambo memburu tikus, diam-diam kami memantaunya, jangan sampai ia tinggalkan bangkai tikus dibawah meja lagi.
Sekarang, Rambo sudah jarang kelihatan di asrama, kami sempat dibuat bingung. Sempat terpikir, apakah semua karena pelayanan kami tidak se-eksklusif kucing-kucing rumahan lainnya, atau karena ia sudah bermadu dengan kucing betina kampung sebelah.
Tapi, saya begitu yakin, sesuatu yang kita sayangi dan kita pelihara di dalam rumah akan pergi atau mati jika pelayanannya kurang mengasyikkan. Ia bisa saja bosan, muak dan tak tahan selagi kita kurang memberi perhatian kepadanya. Meskipun dalam hatimu begitu cinta kepadanya, tanpa perhatian, tanpa kejujuran dan tanpa ketulusan, ia tidak akan betah bersamamu, bisa jadi ia pergi atau mati. Berhentilah berpura-pura cinta, kebebasan seseorang bukanlah sebuah hadiah, melainkan dari apa yang ia nikmati itu tidak ada yang mengaturnya lagi. Rambo, pulanglah! sekian