Perubahan bisa terjadi kapan saja. Baik atau buruk, dampaknya hanya bisa dilihat di kemudian hari. Terlebih lagi, perubahan yang ada kaitannya dengan hati. Abstrak tetapi selalu mengena. Umpama angin, tidak kasat mata tetapi sentuhannya terus saja menyapa kulit. Bukan hanya itu, tulang yang dibaluti tebal dan hangatnya daging juga tidak menyangkal hadirnya saat dingin mendominasi cuaca di serambi rumah. Sekecil dan seringan apapun perubahan, tetap bisa dirasakan oleh makhluk yang diberi anugerah berupa rasa kasih.
Kata-kata ini bukan karya dengan gaya hiperbola, melainkan perasaan yang coba dituang ke dalam tulisan sederhana agar sendunya rasa bisa sampai pada makhluk yang memiliki suasana yang sama. Tunggu, ini bukan tentang ia dengan nama Vina, Ulfa, atau Nury tetapi ia dengan kerudung merah yang mengenakan gamis corak bunga yang menatap saya dengan garis senyuman rindu sembari langit berubah warna menjadi jingga, Natasya.
Ia yang sekarang sangatlah berbeda. Sudah seminggu ini saya seperti orang lain dianggapnya. Di hari ketujuh perubahan ini menjadi lebih kontras. Ketika perasaan meyakinkan bahwa ia masih sama, jiwa merasa ia sudah berbeda, tidak seperti biasanya. Akibatnya rindu yang biasa disampaikan lewat kata dan suara mulai tak dianggap. Saya rasa ia juga rindu, abaiannya menampakkan dia tidak begitu. Bingung dan tidak tahu harus berbuat apa.
Hari demi hari, saya masih saja menganggap kondisi saat ini suatu hal yang masih bisa diperbaiki, didiskusikan, dan dicari solusi nya jika memang perlu. Karena hal ini pula saya tidak langsung segera berhenti dan menyerah. Mungkin saja ia berpikir saya manusia yang keras kepala, tetapi saya terbiasa tegas bila menyangkut niat baik dan kebaikan bersama.
Agaknya percakapan yang dibatasi hanya lewat pesan teks berlangsung sengit dua malam yang lalu. Hingga sampai kalimat itu dibaca oleh kedua mata ini. Ia mengatakan...
(bersambung)