Halo sahabat steemian. Selamat datang kembali di blog saya. Semoga steemian yang membaca konten ini selalu sehat dan bersemangat. Saya selalu berharap, ada pandangan baru, hal baru, ilmu baru yang bisa steemian petik setelah membaca blog saya. Karena konten yang dibuat tanpa adanya manfaat, sama saja seperti kertas kosong. Mudah-mudahan ini bukan kertas kosong.
KITA PASTI TUA.Judul ini sengaja saya pilih untuk menggambarkan isi konten yang akan segera steemian baca. Jika kita semua diberi umur panjang, Insyaallah kita pasti tua. Karena menjadi tua itu bukanlah pilihan, melainkan sebuah kepastian.
Sepertinya profesi saya merupakan profesi yang paling sering menyaksikan dilema hidup seorang manusia. Bisa menjadi saksi atas adanya perubahan fisik dan jiwa dari seorang individu tidaklah mudah. Tidak sedikit waktu dan biaya yang sudah dihabiskan dalam mencapai profesi ini. Namun, entah mengapa masih saja orang di negara kita memandang sebelah mata profesi ini.
Adalah seorang pasien Tn. M (69) dengan diagnosa medis STEMI (ST Elevasi Miokard Infark). Keluhan yang paling dirasakan oleh pasien dengan diagnosa ini adalah nyeri berat di bagian dada, bisa seperti ditimpa atau terbakar, dan biasanya menjalar ke bagian belakang dada. Namun, tidak pada Tn. M. Nyeri dada yang ia rasakan sudah berkurang dari hari sebelumnya.
Semalam Tn. M mengalami gelisah, sulit untuk tidur, dan sering menanyakan hal yang sama secara berulang. "Nyoe pat, pakon lon inoe?" tanyanya menggunakan Bahasa Aceh yang artinya "Ini dimana, kenapa saya disini?". Saya menjelaskan bahwa ia sedang sakit dan dirawat di rumah sakit.
Sekitar pukul 04.30, saya kembali ke kamar Tn. M. Saya menemukan selang infus sudah tidak terpasang. Saya menanyakan kenapa selang infusnya bisa copot, Tn. M malah menjawab dengan tanya, mengapa ia harus memakai selang infus. Padahal Tn. M sudah 4 hari dirawat. Akhirnya, saya ulang kembali jawaban mengapa Tn. M dirawat dan segera saya pasang selang infus yang baru.
Kasus di atas merupakan satu contoh perubahan yang dialami di masa tua. Menurunnya kemampuan kognitif dan orientasi. Beberapa kondisi penyerta selama proses perawatan bisa saja muncul. Seperti, merasa asing bersama pasien lain, merasakan kesepian, tidak berdaya, perubahan kognitif, dan kondisi penyerta lainnya. Biasanya, kondisi-kondisi ini memberi dampak kurang baik kepada pasien. Oleh karena itu, selain perawatan yang diberikan oleh dokter dan perawat, peran keluarga juga sangat penting untuk menunjang kesembuhan pasien.
Merawat bayi dan anak kecil sudah pasti berbeda dengan merawat orang yang sudah dewasa dan lansia. Merawat lansia akan memiliki tantangan tersendiri. Dikarenakan, ada banyak perubahan kondisi yang dialami lansia, baik dari segi perasaan maupun perilaku. Perilaku lansia cenderung akan kembali seperti anak-anak.
Nah, karena perilaku lansia cenderung seperti anak-anak, alangkah baiknya pihak keluarga memahami kondisi tersebut. Mari kita baca satu contoh kasus.
Ny. R (65) adalah pasien dengan diagnosa strok. Ny. R hanya terbaring di tempat tidur. Seluruh kebutuhan dasarnya tidak bisa dilakukan sendirian, membutuhkan orang lain untuk mememenuhinya. Dari kebutuhan makan dan minum sampai kebutuhan eliminasi (BAK dan BAB). Kebutuhan makan dan minum dipenuhi melalui selang NGT (Nasogastric Tube). Buang air kecil melalui selang kateter urin dan buang air besar memakai pamper dewasa.
Keadaan pasien dengan kondisi di atas membutuhkan perhatian khusus. Tirah baring dalam waktu yang lama bisa berisiko munculnya luka di sisi belakang tubuh pasien, kami menyebutnya dekubitus. Kondisi pasien seperti di atas banyak menampilkan fenomena menyedihkan di ruangan.
Pernahkah sahabat steemian melihat seorang anak memarahi orang tua yang sudah tidak berdaya di tempat tidur? Pernahkah sahabat steemian melihat kesedihan seorang Ibu dari air mata yang membendung di kelopak matanya karena anak perempuannya mencubit tangan si Ibu? Pernahkah sahabat steemian melihat seorang kakek yang dibiarkan begitu saja oleh keluarganya padahal mereka adalah orang-orang yang beliau sayangi? Pernahkah sahabat steemian melihat seorang bapak dijaga, diseka, diganti pamper nya oleh seorang perempuan yang dibayar oleh keluarga untuk menjenguknya di rumah sakit?
Mereka orang tua, mereka sedang sakit, sudah saatnya kebutuhan mereka dibantu oleh orang lain (keluarga). Sebenarnya, ini semua tugas kami untuk membantu memenuhi kebutuhan dasar pasien. Namun, ada seorang ibu yang sengaja berkata "Dek, tolong ganti pemper Bapak ya, Ibu nggak sanggup." sambil menampakkan adegan mual, merasa jijik. Seorang istri dari orang yang ia ucap cinta dan sayang sebelumnya, tetapi setelah keadaan Bapak seperti itu, ia enggan untuk membantu.
Belum lagi seorang laki-laki tegap bersama istrinya yang tampak malu dengan kondisi ayahnya. Bahkan menganggap ayahnya sudah tidak waras. Padahal, ini kondisi normal untuk orang yang sudah lansia. Berbicara sudah tidak teratur, sering mengulang pertanyaan yang sama, ingin bergerak kesana kemari, banyak bicara, dan lain-lain. Sudah kami jelaskan kepada mereka, ini keadaan normal. Mereka tetap bersikukuh dan ingin membawa ayahnya pulang saja.
Kepada sahabat steemian semua, Kita Pasti Tua. Seperti apapun kondisi orang tua kita, mari sayangi, jaga, rawat. Usaha mereka untuk kita, tidak akan sebanding dengan sebasar apapun usaha kita untuk mereka. Jika orang tua steemian masih sehat, jagalah komunikasi, kunjungi mereka meski waktu sempit. Jika orang tua steemian sedang sakit, tetap jaga, rawatlah. Kebaikan pada mereka yang kita lakukan sekarang, bisa saja berdampak esok hari saat kita mulai tua. Keburukan pada mereka yang kita lakukan sekarang, juga bisa saja berdampak esok hari saat kita tua.
Sekian dulu tulisan dari saya, sebagai bentuk pengingat untuk kita semua, khususnya saya sendiri.
Berikut ada video dari Fourtwnty "Kita Pasti Tua"