Suntuk menyapa diri sore itu. Menyisakan penat dan aroma kegirangan yang selalu kurindukan. Hembusan angin sore membawaku seakan ingin terbang melayang ke udara. Riuh suara orang-orang yang lalu lalang dijalanan membuatku kian suntuk, hilang arah dan tak tahu apa yang harus kulakukan.
Terpikir bagaimana harus kujalani sore itu?
"Sambil menatap awan yang cerah, terlintas dipikiran kenapa tidak kuhabiskan sore ini dengan berkawan sepi di tepi sungai? ditambah secangkir kopi tentunya".
Lima menit kemudian kuhubungi temanku mengajaknya minum kopi ditepi sungai. Tanpa banyak basa basi dia pun mengiyakannya, dengan membawa peralatan "brewing kopi" miliknya. Kami pun menuju lokasi dimana lokasi tersebut sering kami datangi dikala suntuk merajai diri.
Angin masih berhembus saat kami tiba ditepi sungai, setelah menempuh perjalanan yang melintasi jalan bebatuan yang membuat ban sepeda motorku bergoyang tak beraturan. Kuparkir sepeda motorku, kubawa turun peralatan kopinya dan kemudian kami menulusuri tepi sungai untuk memanjakan diri dengan gemuruh suara hilir sungai.
"Kala itu, sepi tidak lagi bersemanyam dengan ketenangannya. Kopi dan kepulan asap menyatu dikeheningan suara yang bukan lagi suara riuh para pengendara sepeda motor dipesatnya kota. Semilir angin membawaku seakan perasaan suntuk tak lagi memiliki arti. Sungguh sebuah perasaan yang tak bisa digambarkan dengan kata-kata, kurasa."
Benar saja, magrib pun tiba. Senja kian larut, suntuk-suntuk dikepala pun telah tuntas diutarakan. Namun, seakan kedamaian hati ini tak ingin kutinggal begitu saja. Keheningan sungai begitu mempesona dimalam hari, ingin kunikmati sampai malam larut. Namun apalah daya serangan nyamuk yang bagai serdadu perang itupun memaksa kami harus beranjak pergi.