Isapan sigaret berhenti seketika. Asap mengepul terbang sia-sia, tanpa sempat merasakan kenikmatnya. Masih tertegun sesaat. Seolah-lah masih belum percaya dengan ucapan sangat berarti itu. “Kalau Ayah dan Mama sudah tua, baru giliran I’nda yang sulang. Sekarang Mama dengan Ayah dulu yang jaga I’nda,” katanya sambil mengunyah nasi yang disuapkan istri ku.
Tatapan ini reflek beradu pandang bersama istriku. Ia hanya tersenyum. Sepertinya ia paham, jika saat itu, saya masih tercengang mendengar ungkapan yang sangat membahagiakan hati demikian. Kembali ia berupaya menanyakan kata-kata apa dituturkan anakku? “Iya. Nanti kalau I’nda sudah besar dan menjadi Dokter yang suntik orang. Mama dengan Ayah enggak usah kerja lagi. Biar I’nda yang sulang makan,” jawabnya, sambil meminta tambahkan lauk ikan.
Istriku masih memandangku bersama senyuman kepuasan. Sementar perasaan ini masih sangat tersentuh; membahagiakan, meneduhkan, dan menyejukan. Kembali tatapan beralih melihat buah hati ku. Sementara bibir mungilnya masih mengunyah makanan tanpa henti.
Wow! Sungguh sebuah ungkapan yang mampu membuat darah di dalam tubuh ini, turun naik. Kembali isapan sigaret lancar. “Betapa nikmatnya hidup ini,” celoteh di hati. Saya bahagia. Serta teramat senang menyenangkan mendengar kata-kata itu.
Tapi untuk memastikan sejauh mana cita-cita membahagiakan kedua orang tunya. Kembali saya mengulang pertanyaan terhadap sang buah hati. “Memangnya saat I’nda sudah besar, Ayah dan Mama kayak apa?.” Ia menjelaskan kami berdua akan segera tua seperti kakek dan nenek di depan rumah. Saat itulah, dirinya akan merawat kedua orang tuanya. “Tapi Ayah jangan tinggal salat, seperti Mama. Minta dengan Allah (doa) supaya I’nda punya rumah sakit tempat obatin orang. Ya,” pintanya.
Yang membikin saya terheran, bagaimana bisa anak yang masih berusia 5 tahun telah memiliki cita dengan harapan sedalam lautan, untuk membahagiakan kedua orang tuanya. Seharusnya, anak seumurannya hanya selalu berpikiran main hal menyenangkan bersama teman seusianya.
Setidaknya, usai mendengar ucapan demikian, telah memberikan keyakinan bagi saya, jika kelak dirinya mampu menjadi tumpuan keberlangsungan generasi saya di hari masa depan. Karena cita-citanya, sungguh sangat membahagiakan hati ini.
Saya sendiri tak ingin anak saya tumbuh dewasa bersama didikan yang salah. Apalagi jika ia sampai durhaka melawan kedua orang tuanya. Sangat wajar, jika selama ini, istri saya senantiasa mendidik dirinya dengan ilmu agama. Dimulai dari menceritakan kisah-kisah nabi menjelang tidur, Keagungan Allah SWT bersama haram dan halalnya, serta hafalan doa sehari-hari. Sekian.