Ayah merupakan tumpuan keberlangsungan hidup sebuah rumah tangga. Ayah adalah seorang pria tangguh, selalu tulus dengan keikhlasan menjadi tulang punggung bagi istri beserta anaknya. Meskpiun ia teramat lelah bekerja, tetap tidak akan pernah terucap kata keluhan ‘penyesalan’ dari bibirnya.
Setiap insan di dunia ini, pasti bakalan terasa sulit melalui kerasnya kehidupan. Tanpa memperoleh bimbingan tentang baik dan buruk, dari seorang Ayah. Ia merupakan sosok yang tanpa pamrih, senantiasa mendukung sebuah kebaikan terhadap generasi penerusnya.
Setiap Anak, merupakan harapan bagi seorang Ayahnya. Sehingga wajar, jika kita sampai menyaksikan sosok pria tangguh ini, rela kerja keras dan banting tulang supaya dapat memenuhi biaya pendidikan anaknya.
Tak ada, seorang Ayah yang rela hati saat melihat anaknya hidup susah, kelak. Setiap orang tua, pasrah serta rela kehabisan uang simpanan, demi dapat menyekolahkan anaknya sampai perguruan tinggi.
Maka sewajarnya, bagi anda yang masih dalam tangungan biaya pendidikannya, harus benar-benar memanfaatkan setiap waktu dengan giat belajar. Jangan sia-siakan tumpuan harapan orang tua mu.
Sangat sederhana cara anda membayar seluruh harta benda yang sempat dihabiskan itu. Cukup dengan hanya anda memperlihatkan sebuah perolehan nilai kategori ‘baik’, telah menjadi sebuah ukiran prestasi paling berharga baginya.
Jadi lumrah, jika kita sempat melihat serta mendengar, ada seorang Ayah teramat sangat membahagiakan, sampai dalam sepekan, belum berakhir ia selalu menggadang-gadangkan nilai indeks prestasi (IP), anaknya.
Kisah tangguh seorang ‘Ayah’ ini, hasil inspirasi melihat seorang teman saya, adalah . Senin 27 Agustus 2018 ini, merupakan hari pertama anak gadisnya masuk jam belajar, sebagai seorang mahasiswi di Politeknik Kesehatan (Poltekkes) Lampeuneurut, Banda Aceh.
Usia memang sudah tak muda lagi. Tapi ia rela sampai empat kali pulang-pergi (PP) Meulaboh-Banda Aceh. Bagi saya sangat wajar, jika dirinya mengorbankan seluruh waktu dan tabungannya demi membiayai pendidikan anak gadisnya.
Putrinya, biasa menyapa Bang dengan panggilan “Abu.” Anak gadisnya ini, sempat memohon, usai tamat SMA Negeri I Meulaboh, dapat melanjutkan pendidikan jurusan D-IV Kesehatan Gigi, di Poltekkes, Banda Aceh. Kini cita-cita pendidikan tersebut, telah dipenuhi sang Abu.
Namun saya sempat melihat ekspresi paling mengharukan, dari sosok . Sepertinya, ia masih bertanya-tanya di dalam hati, apakah mampu berjauhan dari anak semata wayangnya? Karena selama ini, ia selalu menjalani hari-hari bersama seorang putri, tepat di sampingnya.
Sangking cemasnya, membayangi bagaimana nasib anak si Abu ini jauh dari orang tua. membeli seluruh keperluan sehari-hari, mulai perlengkapan belajar mengajar, dapur, kamar, transportasi sepeda motor baru, dan membuka rekening buku Bank pribadi, supaya ia dapat mengirim uang secara cepat saat buah hatinya, membutuhkan biaya.
Tapi saya sempat berpesan, jika Bang rindu dengan buah hatinya, dapat mengajak saya untuk pulang-pergi Meulaboh-Banda Aceh. Pada peluang Ini yang paling saya suka, karena dapat pulang setiap saat menjenguk orang tua, di rumah Banda Aceh, secara gratisan hehehe….
(Hore...anak Abu dibeli sepeda motor baru)