Innalillahi Wainna Ilaihi Rajiun! Sontak dirinya terbangun dari tidur lelapnya. Reflek tadi, seketika saja membikin posisi tubuhnya duduk bersila di atas pembaringan. Wajahnya sedikit tertunduk, awalnya berucap istighfar, kini samar-samar terdengar suara menyebut nama Allah SWT, secara berulang kali.
Tarikan napasnya, terlihat sangat stabil. Wajah sedikit menoleh kearah ku, sambil terlihat seutas senyuman. Padahal baru saja, ku saksikan dirinya terbangun dari istirahat pulas, usai terjadi sentakan kuat pada sekujur tubuhnya. Ku pegang bahunya, sambil bertanya ada apa?. Dengan nada suara tenang, ia hanya menjelaskan telah menerima gangguan gaib.
Namun ia beranggapan, mungkin gara-gara lupa membaca doa sebelum tidur. Tapi kini, keadaan dirinya mulai terkendali, meskipun energi negatif makhluk gaib yang menyerangnya masih sedikit tersisa. Saya yang mendengar penjelasan itu, hanya berupaya mengangguk saja, padahal sama sekali tidak memahami apa maksudnya!?!
Jarum jam menunjukkan pukul 03.20 WIB. Waktu yang terlalu dini untuk bangkit dari tempat pembaringan empuk ini. Tapi mata yang tiba-tiba melotot (melek) ini, tak mampu diterpejamkan lagi. Rasa penasaran tentang serangan gaib dimaksud teman saya itu, masih terus membeku di benak. Seolah-olah bakalan mencair jika telah memperoleh penjelasan tentang hal mistis tersebut.
Ia baru saja muncul dari mengambil air wudhu. Langsung ku meminta dirinya untuk segera menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi? Ia menceritakan, sejak tiga bulan terakhir, kerap menerima serangan gaib kiriman dari seseorang. Sebutnya, pelaku merupakan tetangga dekatnya sendiri.
Ia mengaku sadar telah menerima serangan gaib tadi, setelah sekujur tubuhnya tiba-tiba mengalami hentakan kuat, layak orang terkejut dari sesuatu. Tapi disertai dengan gesekkan energi lembut yang terasa panas dari kiri hingga hampir membaluti seluruh raganya.
Ucapan “Innalillahi Wainna Ilaihi Rajiun!” merupakan reflek dari dalam dirinya untuk segera dalam kondisi berserah diri kepada Allah SWT. Ia menjelaskan, arti dari kalimat tersebut, adalah “Kami milik Allah dan akan kembali kepadanya.” Sehingga, pemahaman yang diyakini teman saya ini, tidak ada makhluk gaib jenis apapun yang berhak mencelakain apalagi sampai menguasi raganya, karena tubuh tersebut merupakan milik Allah SWT.
Dilanjutkan dengan melesat tusukan kuat masuk melalui jempol kanan nya, spontan mentransfer sebuah hawa ketubuh sampai berujung beradu energi negative dan positif pada raganya. Keringat bercucur deras dari kening. Serangan berhasil dinetralkan.
Kisah teman saya, tetangga komplek perumahan tempat dirinya berdomisili, pintar dengan berbagai jenis ilmu gaib, seperti seorang dukun santet. Kemampuannya tersebut, telah menjadi rahasia umum bagi penduduk setempat. Ramai orang yang tidak disukai, bakalan berujung menderita sakit parah dan menyedihkan.
Demikian juga dengan teman saya ini, usai dirinya bertengkar dengan tetangganya, ia, istri, anak, dan setiap sendi kehidupannya mulai memperoleh serangan mistik. Mulai dari serangan ringan, sedang, dan berat sering dirasakan keluarganya.
Awalnya, rekan saya ini mengaku tak mempercayai berbagai penjelasan dari peringatan beberapa tetangga, di komplek perumahan yang baru ia tempati itu. Apalagi, dirinya merasa ada sedikit peninggalan ilmu kebatinan yang diajarkan orang tuanya, sebelum meninggal.
Berbagai serangan mampu dibersihkan. Namun saat ia lengah, satu serangan berhasil jebol (tembus) sampai menyebabkan dirinya tak mampu bergerak lagi (lumph). Tapi ada hikmah dibalik penyakit gaib yang ia alami, karena sampai kini, dirinya tak pernah tinggal salat dan selalu tulus serta ikhlas bertawal kepada Allah SWT. Penyakit lumpuh yang ia derita, dalam semalam mampu disembuhkan.
Namun, dirinya mengaku sangat sedih ketika sepasang kakek dan nenek yang juga turut bertengkar dengan tentangga dukun santet tersebut, kedua-duanya mengalami sakit parah. Tapi ia tak kuasai untuk menyembuhkan karena harus tetap fokus membentengi keluarganya sendiri.
Teman saya, merasa sangat memilukan hatinya, lantaran melihat kekek dan nenek yang telah sempat pergi ke tanah suci itu, sangat begitu menderita usai menjadi bulan-bulanan si dukun. Meskipun ia telah berobat kesana-sini, bahkan sampai pulang-pergi masuk Rumah Sakit Umum Zainal Abidin Banda Aceh, tetap saja, ujung-ujungnya disuruh pulang ke rumahnya, karena hasil diagnosa medis tidak ditemukan jenis penyakit apapun.
Huft, saya yang mendengar kisah itu, sampai merasa iba dengan kondisi mereka. Sang kakek dituturkan tak mampu berjalan dengan kaki dan kemaluan membesar. Sementara si nenek tak mampu menelan apapun melewati bagian tenggorokannya, asupan makanan ketubuhnya dimasukan melalui infuse.
Mari teman semua, kita memanjatkan doa bersama saja, semoga kakek dan nenek itu, segera sembuh dan Allah SWT mengangkat sempurna penyakit yang di deritanya. Khusus bagi Dukun Santet segera mendapat hidayah. Sekian.