Source:pixabay
Salam Steemians
Semoga kawan-kawan selalu dalam keadaan sehat wal ‘afiyah, dan semoga juga sudah membaca postingan sebelumnya (klik di sini) karena postingan ini adalah lanjutannya.
Mereka Guru Besar dan teori-teorinya!
Source: pixabay
Mari kita kembali ke Pavlov, pernahkah kita selaku guru atau mahasiswa yang khususnya pada fakultas tarbiyah atau FKIP, mempertanyakan atau menelaah lebih lanjut kecocokan teori Classical Conditioning by Pavlov dari hasil uji-cobanya pada seekor anjing yang kemudian akan diterapkan pada diri seorang manusia ?. Jawabannya ada pada diri kita masing-masing, jawabannya tidak sekedar “tidak sesuai atau sesuai”. Namun, kitanya kita semua perlu meniliki akan perbedaan-perbedaan yang sangat-sangat mendasar antara struktur yang ada pada diri manusia dengan seekor binatang dalam hal ini anjing. Dan persoalan ini pernah penulis rasakan dan mempertanyakan pada dosen selaku pendidik namun tidak ada jawaban yang konkrit di sana.
Source: wikimedia commons
Selanjutnya, pertanyaan kembali menyelimuti pikiran saya khususya bahkan sangat memungkin juga pikiran para pembaca di sini, apakah yang alasan mendasar dari Pestalozzi untuk menolak metode menghafal. Apakah dengan metode menghafal itu akan menjadikan seorang anak menjadi lamban dalam pertumuhan ingatan karena pemerasan otak di masa kecil. Bahkan, ada juga sebagian orang dengan istilah halusnya mengatakan bahwa metode menghafal itu tidak ramah otak apa lagi untuk anak-anak yang masih di bangku Sekolah Dasar.
Penulis sendiri tidak mengetahui apa yang melatarbelakangi pemikiran Pestalozzi untuk tidak menerapkan metode menghafal. Dugaan kuta saya, bisa jadi karena dalam Kristen tidak ada anjuran menghafal injil atau Pestalozzi sendiri di masa kecilnya hanya suka menggunakan imajinasi bahkan saat kecil ia tidak suka pada dunia sekolah dengan tugas-tugas dan menghafal tapi ia lebih cenderung menyendiri dan berimajinasi sehingga kemudian hari ia pernah dijuluki “Heinrich Bodoh dari Kota Aneh”.
Sekali lagi, bila diasumsikan bahwa metode menghafal “tidak ramah otak” apa lagi untuk anak-anak kelas I (usia kurang telbih 6-7 tahun). Padahal dalam pendidikan Islam, menghafal merupakan konsep dasar dan sangat dianjurkan, dengan menghafal hati anak-anak tidak akan kosong. Hal ini telah dibuktikan dengan lahirnya tokoh-tokoh besar Islam, dimana mereka dari masa kecilnya adalah penghafal seperti Imam Syafi’i, Imam Ahmad, Imam Bukhari, Zaid Ibnu Sabit, Ibnu Mas’ud, dan Ibnu Taimiyah serta masih banyak ulama-ulama lainnya.
Apa yang menjadi kekhawatiran besar kita! Jika ilmu itu tidak ada dalam otak atau hati adalah hal yang sangat membahayakan anak-anak didik kita, karena dengan kekosongan ilmu dalam otak dan hati, lantas mereka mencoba menganalisa suatu fenomena yang terjadi. Pertanyaanya kecilnya adalah, apakah proses analisa bisa mereka lakukan? apa yang akan dianalisa oleh mereka? Inilah kekeliruan yang dibangun dalam kerangka proses pendidikan selama ini, kita surut dari konsep-konsep yang telah dibangun oleh ahli pendidikan Islam.
Saya pribadi, bukan anti terhadap teori-teori barat karena teori-teori barat memang kaya dengan eksperimen dan dunia emperisnya, namun kita juga harus merangsang kembali bahwa Islam memiliki tools dan tools Islam lebih lengkap serta kuat nilai-nilainya, dan nilai-nilai ini akan abadi sampai akhir. Panduan ini telah dibuktikan oleh tokoh-tokoh Islam yang penulis sebutkan di atas.
Kekhawatiran kita akan semakin mencapai ambang batas dikala melihat kerangka proses pembelajaran yang dibangun atau dalam istilah lebih sederhana adalah pendekatan pembelajaran yang digunakan dalam kurikulum saat ini. Misalnya, proses pembelajaran itu harus memenuhi keilmiahan dan rasional, baru kemudian diakhiri dengan hubungannya dengan dalil-dalil agama. Jika pendekatan pembelajaran terus berlanjut dengan pendekatan seperti ini, tentu akan membahayakan cara berpikir generasi kita, bahkan tidak menutup kemunikan juga akan melemahkan iman dan taqwaan mereka.
Pendekatan dalam proses pembelajaran atau kurikulum Islam menggunakan nash atau dalil-dalil al-Qur’an dan Hadis. Dan pastinya setiap yang dikhabarkan dalam al-Qur’an dan Hadis memiliki kebenaran mutlak serta dengan sendirinya keilmiahan dan kerasionalan sutau ilmu mengikuti apa yang termaktub dan al-Qur’an dan Hadis Shahih. Jadi, jangan menabarak rasional dengan dalil-dalil agama, karena rasional manusia terlalu jauh dengan kebenaran khabar sadiq yaitu al-Qur’an dan Hadis, seharus dalil-dalil tersebut dalam pendekatan pembelajaran dijadikan patokan yang kemudian kita mengkaji dengan rasional lebih dalam makna yang tersirat dan kebenaran yang disampaikan dalam al-Qur’an dan Hadis. Dengan model pendekatan seperti ini, kiranya akan memperkuat Iman dan taqwa generasi bangsa serta memperbaiki pola pikir mereka.
Hasil Diagnosa!
Source: pxhere
Jika hasil diagnose memperlihatkan bahwa teori-teori belajar besar yang selama ini terus dipakai pada praktik pendidikan kita dan terindentifikasi tidak cocok dengan teori-toeri intelektual Islam, maka dapat dikatakan inilah permasalahan (hasil diagnosa), dan di sini diperlukan sebuah tindakan nyata dari berbagai pihak yang bersangkutan dengan melihat ruang-ruang yang sehat untuk digunakan. Dengan demikian, apa yang pernah disampaikan oleh Sayyid Muhammad Quthb dapat kita minimalisir untuk terjadi. Ia mengatakan bahwa ilmu yang paling dominan dimasuki oleh Yahudi adalah ilmu bidang pendidikan dan psikologi, dan kedua jalur ini sedang mereka kerahkan dan bisa dikatakan akan berhasil sempurna jika kita terus larut dengan teori-teori pendidikan yang bukan dari Islam yang kemudian kita telan bulat-bulat tanpa ada filter.
Sayyid Muhammad Quthb dapat kita minimalisir untuk terjadi. Ia mengatakan bahwa ilmu yang paling dominan dimasuki oleh Yahudi adalah ilmu bidang pendidikan dan psikologi, dan kedua jalur ini sedang mereka kerahkan dan bisa dikatakan akan berhasil sempurna jika kita terus larut dengan teori-teori pendidikan yang bukan dari Islam yang kemudian kita telan bulat-bulat tanpa ada filter.
Maaf maaf, Jika salah kaprah (artinya: kesalahan yang telah sering digunakan sehingga orang menganggap hal itu benar) karena sistem demokrasi dalam proses pemilihan seorang pemimpin, tentu kita masih ada pulang untuk memperbaikinya dengan menunggunya 5 tahun ke depan. Namun, jika sikap salah kaprah dalam menganut teori pendidikan yang kemudian teori ini diestapetkan untuk mendidik generasi kita, maka membutuhkan waktu yang lama, kiranya 63 tahun untuk melahirkan generai-generasi yang dididik dengan konsep-konsep pendidikan Islam.
Wallahu a'lam...