Jika kita dianggap bodoh oleh orang lain, toh kenapa? Apakah kita juga harus membodoh-bodohkan orang lain, seperti yang dia lakukan?!
Jika kita dianggap miskin oleh orang lain, toh kenapa? Apakah kita juga harus memiskin-miskinkan orang lain, seperti yang dia lakukan?!
Jika kita dianggap rendah oleh orang lain, toh kenapa? Apakah kita juga harus merendahkan orang lain, seperti yang dia lakukan?!
Jika kehadiran kita tak dianggap oleh orang lain, toh kenapa? Apakah kita juga harus tak menganggap kehadiran orang lain, seperti yang dia lakukan?!
Jika kita dianggap ga selevel oleh orang lain, toh kenapa? Apakah kita juga harus melevel-levelkan orang lain, seperti yang dia lakukan?!
Ini mie atau manusia sih? dilevel-levelkan?
Jika kita bukan selera orang lain, toh kenapa? Apakah kita harus jadi indomie biar jadi seleranya?!
Jika kita.... Ah, jadi lapeer.
Menghadapi orang yang merasa paling benar, tidak harus dengan mengikuti cara orang tersebut memperlakukan kita. Terlebih jika dia menolak mentah-mentah dari menerima nasehat yang baik. Lebih baik kita diam dan berpaling darinya. terlebih lagi kita mempunyai tugas dan kewajiban yang harus diselesaikan.
Bersyukur, kita diberi mata, mulut, telinga dan seluruh tubuh ini untuk melihat, bicara, mendengar, melakukan aktivitas lainnya. bukan hanya sebagai hiasan pemanis nan penambah kerupawanan yang hakiki. Tapi untuk kita pergunakan sebagai penunjang berbuat amalan yang baik dan bermanfaat.