Assalamu'alaikum steemian,
Dua hari lagi Ramadhan akan berlalu, saya tidak tahu apakah amalan-amalan yang selama Ramadhan ini saya kerjakan akan mendapatkan ridho Allah. Rasa-rasanya saya tak bisa memelihara keyakinan yang berlebihan, saya sudah berusaha dan merasa kalah, intinya saya belum menang saat ini dari segala pengekangan hawa nafsu di Ramadhan. Itu yang saya rasakan sekarang. Setidaknya, masih ada dua hari yang masih bisa saya maksimalkan, dan harus benar-benar berusaha. Karena nikmat waktu meski sedikit sangat berharga.
Andai waktu bisa diputar!!!
Menjalankan Ramadhan sendiri di negeri orang bukan perkara mudah, berat bahkan lebih berat dari rindu si Dilan. Kebiasaan hidup yang berbeda dimana disini tidak mengenal namanya puasa, jika ada orang puasa takut akan mati jadi harus dilakukan secara backstreet, negeri minoritas jauh dari lingkungan muslim, status yang tidak sebebas di rumah sendiri, beratnya pekerjaan, waktu puasa yang lebih lama di musim panas dan masih banyak lagi faktor yang membuat Ramadhan jadi tak bernilai selain daripada sesuatu yang berat dikerjakan jika bukan berangkat dari niat dan ketaatan.
Tiga Puluh hari dari Ramadhan, tidak pernah tahu hari mana yang terbaik, hari mana yang membuat Allah berkenan menjadikan ampunan bagi diri.
Ramadhan memang hanya datang satu tahun sekali tapi semua hanya seperti kebiasaan yang berulang karena intensitas keseringannya dan tak memberikan efek pada kehidupan selanjutnya, itu fakta. Saya tak bisa berharap atau menghiba pada Allah untuk mengembalikan pada awal Ramadhan dengan berjanji mulai berbuat amalan yang lebih baik lagi. Lemahnya sebagai manusia, yang sudah tabiatnya bodoh dan bebal, tempatnya salah dan dosa, sulit berkonsisten dengan janjinya. Saya yakin Allah bisa mengembalikan ke awal Ramadhan bagi siapapun jika Dia sudah berkata "Kun". Tapi saya juga yakin bahwa Allah tak akan melakukannya. Bagi saya pribadi Ramadhan bukan hanya saat ini saja, bukan yang datang pada tanggal 17 mei sebulan lalu dan akan berakhir 15 Juni dua hari lagi. Tidak, Ramadhan memang akan berakhir tapi saya berniat sungguh-sungguh akan memelihara spiritnya untuk mengarungi bulan-bulan selanjutnya. Memelihara puasa sunnah, konsisten pada amalan malamnya juga, berusaha sholat tepat waktu, menjaga emosi diri, kedermawanan untuk selalu berbagi.
Ramadhan adalah tempaan, bulan untuk mendidik diri. Keberhasilan Ramadhan bukan diukur dari keberhasilan berpuasa dan terawih sebulan penuh dan rutin membaca Alqur'an, meskipun itu juga bagian dari usaha yang diwajibkan untuk mengisi bulan baik ini. Tapi tolak ukurnya adalah perbuatan kita di bulan-bulan berikutnya. Tidak kalah penting menjaga ahlak diri agar tetap selalu dalam aturanNya, karena agama bagi seorang muslim bukan sekedar kontekstual tapi sebagai jalan hidup yang harus menyatu hingga akhir hayatnya.
Akhir kata semoga kita semua tetap bisa istiqomah menjadikan spirit Ramadhan untuk kehidupan kita selanjutnya hingga nanti saatnya menghadap Sang Pemilik Kehidupan.
Terimakasih atas kontesnya yang sangat menarik dan luar biasa ini. Kontes berbagi dibulan berkah. Semoga pahala kebaikan selalu melimpah untuk anda.