Jika kumulai dengan kalimat "pada suatu hari..." maka kau kira aku akan berkisah.
Jika kukatakan "pada zaman dahulu", kau akan berpikir aku sedang akan mendongeng.
Jadi begini, Kawan. Ada banyak sekali kata yang berjejal di kepala. Saat hari masih terang tanah, kemudian lazuardi biru dilukis di atas langit, hingga senja yang menjingga.
Kata tersebut melesak tak beraturan. Mencari jalan keluar agar ia tak membuat sang empunya kepala menjadi pesakitan. Walau ia suka lupa urutan tapi sang empunya pikiran masih sedikit terampil memberikan polesan agar kau tak bosan.
Jadi, ke sinilah mendekat. Aku hanya ingin mengungkap yang sejatinya telah tersingkap. Tak ada rahasia di antara akasara-aksara yang telah lepas dari belenggu pikiran.
Komplek BuAs, 4 Februari 2018