AKHIR-AKHIR ini, publik Islam dibuat resah dan mencekam. Pasalnya, ada banyak ulama dan rumah ibadah orang Islam mulai didatangi oleh orang-orang yang katanya minus akal (baca: gila). Seperti yang terjadi di Jawa Barat, di Banda Aceh, dan juga beberapa tempat yang lain.
Tentunya, kondisi ini mengingatkan kita pada kondisi masa lalu, dimana sejumlah ulama diburu kemudian dibunuh, dan tempat-tempat aktivitas ulama dirusak, bahkan rumah ibadahnya pun ikut dirusak juga. Namun, saat itu yang merusaknya motifnya jelas dan bisa dikenali, sebab mereka bagian dari kelompok tertentu, yang sampai hari ini eksistensi mereka diharamkan oleh negara. Pengharaman eksistensi mereka karena mencoba memaksakan ideologi tertentu pula yang bertentangan dengan ideologi bangsa yang telah disepakati oleh para Founder Father kita.
Nah, untuk hal yang baru-baru ini terjadi, meskipun kondisinya sama (teror terhadap kelompok agama) motifnya sulit untuk dipahami. Apalagi yang membuat teror ini (katanya) orang gila.
Sungguh sesuatu ironi dan membuat kita bingung, apa pasal orang gila mencoba meneror para tokoh dan kelompok agama tertentu saja. Apakah mereka benar-benar gila? Ataukah gila mereka dibenar-benarkan.
Karena yang namanya gila itu banyak jenisnya. Dalam keseharian orang Aceh, mengenai gila ini dikenal istilah "sa kureung sireubee" (satu kurang seribu). Artinya gila itu banyak polanya dan sangat beragam katagorinya. Ada yang gila akal, gila perangai, gila perbuatan, gila harta, gila tahta, gila wanita, dan bahkan ada juga yang gila-gilaan. #nyanban